Oleh: Zulkarnain Kadir
Mataxpost | Pekanbaru,- Setahun terakhir, Riau seperti panggung yang lampunya tak pernah padam. Spanduk terpasang, baliho berdiri tegak, dokumentasi kegiatan mengalir deras. Riau tampak βbedelauβ bergemuruh, bergaung, berderap. Namun semakin lama diamati, gema itu terasa seperti suara dari aula kosong: nyaring, tapi tak selalu jelas arahnya. (20/02)
Di hampir setiap bingkai resmi, satu wajah tampil konsisten. Pelaksana tugas gubernur hadir dalam sudut terbaik, pencahayaan cukup, mikrofon siap. Sementara Gubernur nonaktif, Abdul Wahid, pelan-pelan menghilang dari album kolektif. Sekretaris daerah? Ia seperti properti panggung: penting, tapi tak pernah jadi fokus kamera.
Barangkali ini sekadar strategi komunikasi. Toh dalam tata kelola pemerintahan, Plt memang diberi kewenangan menjalankan roda ketika kepala daerah berhalangan. Undang-undang memberi ruang. Administrasi memberi legitimasi.
Namun politik tidak hanya soal legalitas; ia juga soal pesan. Dan pesan yang terbaca publik hari ini sederhana: panggung ini milik satu orang.
Transisi, yang seharusnya menjadi jembatan, terasa seperti pembangunan rumah permanen. Sementara, yang mestinya bersifat sementara, tampil dengan percaya diri seolah mandat telah diwariskan bersama stempel sejarah.
Tentu, tidak ada yang salah dengan bekerja. Tidak ada yang keliru dengan hadir. Bahkan, publik berhak melihat pemimpinnya aktif. Tetapi ketika hampir setiap kegiatan, setiap pernyataan, setiap potret resmi menempatkan figur yang sama sebagai pusat orbit, pertanyaan pun lahir dengan sendirinya:
Apakah ini kesinambungan, atau konsolidasi?
Apakah ini menjaga sistem, atau membangun citra?
Riau hari ini tak kekurangan seremoni. Peresmian berjalan. Rapat digelar. Kunjungan dilakukan. Kamera bekerja tanpa lelah. Namun di sela-sela gemuruh itu, ada ruang kosong yang sulit diabaikan: di mana orkestrasi kolektif yang semestinya menjadi napas pemerintahan?
Pemerintahan daerah bukan monolog. Ia dialog panjang antara kepala daerah, wakil, sekretaris daerah, dan seluruh perangkat birokrasi. Ketika satu suara terlalu dominan, harmoni berubah menjadi solo panjang. Musik tetap terdengar, tetapi kedalaman hilang.
Mungkin ada alasan kehati-hatian hukum sehingga nama dan wajah gubernur nonaktif jarang dimunculkan. Itu bisa dipahami. Namun ketika Sekda β motor administratif yang memastikan mesin birokrasi tetap stabil juga seakan memudar dari panggung, ini bukan lagi soal etika visual. Ini tentang distribusi peran dalam kekuasaan.
Publik tidak alergi pada kepemimpinan yang tegas. Yang membuat begalau adalah ketidakjelasan struktur. Batas kewenangan Plt jarang dijelaskan dengan terang. Sampai kapan situasi ini berlangsung tak pernah diurai dengan gamblang. Narasi yang dominan adalah aktivitas, bukan akuntabilitas.
Di tengah kondisi fiskal yang disebut makin menyempit, Riau membutuhkan lebih dari sekadar gema. Ia membutuhkan kejelasan arah. Karena bedelau tanpa arah hanyalah kebisingan administratif.
Ironisnya, semakin kuat gemuruh itu, semakin terasa galau di bawahnya. Seperti pesta yang terus diputar musiknya agar tamu tak sempat bertanya mengapa tuan rumah tak terlihat. Seperti panggung yang terus menyalakan lampu agar penonton lupa bahwa naskahnya belum selesai ditulis.
Barangkali semua ini sah secara prosedural. Barangkali roda pemerintahan memang tetap berjalan. Namun demokrasi lokal bukan hanya tentang roda yang berputar. Ia tentang siapa yang memegang kemudi, siapa yang mengawasi arah, dan siapa yang bertanggung jawab ketika jalan berbelok.
Riau hari ini tampak bedelau. Tetapi jika ruang tafsir dibiarkan kosong, jika komunikasi publik hanya berisi sorot lampu tanpa penjelasan struktur, maka yang lahir bukan rasa percaya melainkan begalau.
Dan begalau yang dibiarkan terlalu lama bisa berubah menjadi apatis.
Sementara apatis adalah sunyi paling berbahaya dalam politik.
Riau tak membutuhkan panggung solo yang panjang. Ia membutuhkan orkestra yang jujur pada partitur kewenangan. Karena dalam pemerintahan, yang paling penting bukan siapa yang paling sering terlihat melainkan siapa yang paling jelas perannya.
Tidak ada komentar