
.
.
.


Mataxpost | Bengkalis β Skandal hilangnya BBM untuk masyarakat kembali terjadi di Kabupaten Bengkalis. Kelangkaan BBM di daerah ini kian parah dan memicu antrean panjang kendaraan roda dua dan roda empat hingga mencapai kurang lebih dua kilometer di SPBU Jalan Bantan. (19/12)
Hingga sore hari, BBM jenis Pertalite dan Pertamax masih tidak tersedia, sehingga melumpuhkan aktivitas masyarakat dan menyebabkan roda perekonomian tersendat.

Dampak krisis BBM ini kini semakin meluas. Kondisi terkini di Bengkalis memaksa sejumlah aktivitas penting dialihkan ke sistem daring. Siswa sekolah terpaksa mengikuti ujian dan kegiatan belajar secara online akibat keterbatasan transportasi.
Aparatur sipil negara (PNS) mengalami kendala kehadiran dan mobilitas kerja, sementara masyarakat umum kesulitan menjalankan aktivitas harian.
Mahasiswa pun terdampak, dengan ujian dan kegiatan akademik dari universitas yang terpaksa dilaksanakan secara daring karena kelangkaan BBM yang belum juga teratasi.

Warga Bengkalis mengaku harus mengantre berjam-jam tanpa kepastian. Banyak kendaraan terpaksa berputar arah karena dispenser BBM kosong.
Situasi ini sangat dirasakan oleh nelayan, petani, pelaku UMKM, ojek, hingga sektor distribusi barang yang sangat bergantung pada ketersediaan BBM. Biaya operasional meningkat, waktu produktif terbuang untuk mengantre, dan penghasilan masyarakat terancam menurun drastis.
Kelangkaan BBM di Bengkalis ini tidak berdiri sendiri. Kondisi serupa telah berlangsung lebih dari sepekan di berbagai daerah di Provinsi Riau sejak sekitar 12 Desember lalu.
Setelah BBM jenis Solar sempat menghilang dari pasaran, kelangkaan kini merembet ke Pertalite hingga BBM non-subsidi seperti Pertamax 92 dan Pertamax Turbo.
Namun bagi masyarakat Bengkalis, krisis ini terasa lebih berat mengingat keterbatasan akses wilayah serta tingginya ketergantungan terhadap BBM untuk mobilitas antarpulau dan kawasan pesisir.
Situasi yang terus berulang tanpa solusi jelas memicu kemarahan dan kecurigaan publik. Kelangkaan BBM yang hampir merata menimbulkan dugaan kuat bahwa persoalan ini bukan semata kendala teknis distribusi.
Dugaan penyelewengan, penimbunan, permainan mafia BBM, hingga lemahnya pengawasan internal dan eksternal semakin menguat.
Masyarakat kecil kembali menjadi korban, sementara pihak-pihak terkait dinilai saling lempar tanggung jawab.
Hingga kini, masyarakat Bengkalis menyebut kondisi di lapangan belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan signifikan. Di tengah ketidakpastian tersebut, publik semakin lantang mendesak aparat penegak hukum dan instansi terkait untuk segera turun tangan.
Penyelidikan menyeluruh dan transparan terhadap seluruh rantai distribusi BBM dinilai mendesak, termasuk peran SPBU, distributor, hingga kemungkinan adanya oknum yang bermain di balik kelangkaan ini.
Jika dibiarkan berlarut, krisis ini dikhawatirkan akan semakin meruntuhkan kepercayaan publik terhadap pengelolaan energi nasional.
Negara dituntut hadir dan bertindak tegas negara tidak boleh kalah oleh mafia, dan rakyat Bengkalis tidak boleh terus dikorbankan.

Tidak ada komentar