
.


Mataxpost | Jurnalisme ssering kali berada di persimpangan moral yang tajam. Dalam The Journalist and the Murderer, Janet Malcolm menegaskan bahwa jurnalis yang sadar tahu bahwa pekerjaan mereka penuh dengan konflik moral dan itu tidak bisa dihindari. (19/01)
Mereka bukan pahlawan yang menyampaikan kebenaran tanpa cela, melainkan pembuat pilihan tentang apa yang diceritakan dan bagaimana cerita itu disampaikan.
Objektivitas dalam jurnalisme, seperti yang dikatakan Malcolm, bukanlah tujuan yang bisa dicapai dengan sempurna. Setiap berita yang kita baca sudah melalui seleksiβdengan segala kompleksitas dan ketegangan yang tidak selalu jelas.
Jurnalis tidak hanya menggali fakta, tetapi juga memilih narasi yang akan dibagikan, yang sering kali memengaruhi pandangan publik.
Di dunia yang serba cepat ini, kecepatan informasi sering kali mengalahkan kedalaman verifikasi. Berita yang viral lebih penting daripada akurasi, karena di balik layar, jurnalis berjuang untuk tetap relevan di tengah persaingan klik dan like.
Hal ini membawa beban moral yang berat: apakah kita menulis untuk menarik perhatian, atau untuk menyampaikan kebenaran?
Lebih lagi, jurnalis kini harus menghadapi kenyataan pahit bahwa pemberitaan mereka meskipun objektif sering kali berujung pada reaksi keras dari publik.
Bahkan ketika mereka tidak menjadi bagian dari cerita, jurnalis bisa dengan mudah menjadi sasaran kemarahan kelompok atau individu yang merasa terancam oleh berita tersebut.
Di sini, etika jurnalisme diuji: bagaimana tetap objektif di tengah tekanan sosial yang datang dari segala arah? Jurnalis yang benar bukanlah mereka yang merasa selalu benar, melainkan yang terus mempertanyakan dan merasa tidak nyaman dengan pilihan mereka.
Rasa bersalah bukanlah hambatan, tapi alarm moral yang menuntun mereka untuk menjaga integritas.
Kesimpulannya, jurnalis yang sejati adalah mereka yang tidak pernah merasa βmoralnya sempurnaβ. Mereka tahu bahwa setiap keputusan yang mereka ambil berpotensi memengaruhi kehidupan orang lain dan itu membawa tanggung jawab besar.
Dalam dunia yang dipenuhi opini dan reaksi impulsif, jurnalis harus tetap kritis, menjaga jarak dari narasi yang nyaman, dan berusaha menyampaikan kebenaran dengan penuh kesadaran akan dampaknya.

Tidak ada komentar