MENU Jumat, 13 Feb 2026
x
.

ST Burhanuddin: Integritas di Bawah Ancaman dan Godaan Rp 2 Triliun

waktu baca 2 menit
Jumat, 13 Feb 2026 02:58

Mataxpost | JAKARTA – Di ruang kerjanya yang hening, Jaksa Agung ST Burhanuddin memikul beban yang mungkin membuat orang biasa sulit bernapas. Bukan sekadar tumpukan berkas perkara, melainkan pertaruhan harga diri institusi di tengah kepungan intimidasi. (13/02)

Baru-baru ini, publik dikejutkan oleh pengakuan blak-blakan pria berkumis tebal tersebut. Burhanuddin mengungkapkan bahwa jalan yang ia tempuh dalam memberantas korupsi bukan hanya terjal, tetapi juga dipenuhi ranjau.

Ia pernah didatangi seseorang yang mengaku sebagai anggota militer dan melontarkan ancaman layaknya adegan film aksi.

β€œJika keluarga saya tidak dibebaskan, saya luluhlantakkan gedung ini,” kenangnya menirukan gertakan itu.

Alih-alih panik atau memperketat pengamanan, ia justru menjawab dengan tenang. Baginya, gedung Kejaksaan Agung hanyalah aset negara milik rakyat.

β€œSilakan saja. Gedung ini milik rakyat, milik negara. Kalau mau, silakan,” ujarnya tegas.

Jawaban itu bukan sekadar keberanian, melainkan pernyataan bahwa hukum tidak bisa disandera oleh ancaman fisik.

Tekanan tidak berhenti pada intimidasi. Burhanuddin juga mengungkap pernah ditawari β€œtiket keluar” senilai Rp 2 triliun angka fantastis yang bagi sebagian orang mungkin sulit ditolak.

Namun baginya, nominal itu bukan keberuntungan, melainkan noda yang dapat menghapus integritas dan seluruh jejak pengabdiannya.

Ia memilih untuk tetap β€œmembeku” istilah yang digunakannya untuk menggambarkan keteguhan hati saat menghadapi tekanan.

β€œIni marwah kejaksaan dan marwah saya secara pribadi. Saya pantang surut,” tegasnya.

Sekali melangkah mengusut sebuah perkara, menurutnya, tidak ada jalan untuk berbalik arah, apa pun risikonya.

Ketegasan itu juga berlaku bagi lingkaran terdekatnya. Burhanuddin mengaku sejak awal menjabat telah memberi batas yang jelas kepada keluarga.

Bahkan kepada saudaranya, TB Hasanuddin yang merupakan politikus senior, ia telah menyampaikan pesan tegas: jika melakukan tindak pidana, jangan berharap ada perlindungan dari Jaksa Agung.

Komitmen tanpa pandang bulu inilah yang ia yakini menjadi fondasi bagi Korps Adhyaksa untuk terus berdiri tegak.

Pengakuannya menjadi pengingat bahwa di balik pengungkapan kasus-kasus besar, ada perang saraf yang berlangsung senyap perang antara integritas dan intimidasi, antara godaan kekuasaan dan tanggung jawab kepada negara.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x
x1