
.

A. Fuadi, dan Donny Damara di peluncuran buku Buya Hamka. Foto: Alexander Vito Edward Kukuh/kumparanMataxpost | Pekanbaru,- A. Fuadi merentangkan kisah Buya Hamka sebagai sebuah perjalanan batin yang panjang, bergerak dari ruang-ruang sunyi ke panggung sejarah bangsa. Dalam novel ini, Hamka tidak serta-merta hadir sebagai ulama besar yang telah selesai dengan dirinya, melainkan sebagai manusia yang terus diuji oleh kehilangan, pertentangan, dan kesetiaan pada iman.
Ia berjalan perlahan, membawa luka yang tak selalu terucap, sembari menanamkan keyakinan bahwa hidup harus dijalani dengan adab, betapapun kerasnya zaman.
Sejak muda, Hamka telah akrab dengan kesepian.
Didikan keras Haji Rasul, ayahnya, membentuk hari-harinya dalam disiplin yang nyaris tanpa ruang untuk keluh. Cinta dalam keluarga itu hadir dalam bentuk yang kaku, tak banyak kata lembut, tak ada pujian yang mudah jatuh.
Hamka tumbuh dengan kerinduan yang disimpan rapiβingin diakui, ingin dipahamiβnamun justru dari tekanan itulah ia belajar menaklukkan ego dan mengolah rasa.
Hubungan ayah dan anak itu menjadi drama awal yang membekas, menumbuhkan Hamka sebagai pribadi yang kelak memilih kelembutan sebagai jalan dakwah.
Ketika sejarah bangsa memanggilnya masuk ke pusaran politik, Hamka kembali dihadapkan pada pilihan-pilihan getir. Persinggungannya dengan Bung Karno digambarkan Fuadi sebagai relasi dua keyakinan besar yang tak pernah benar-benar berdamai.
Perbedaan pandangan, kecurigaan ideologis, dan iklim politik yang keras menyeret Hamka ke penjara. Namun di balik jeruji, ia tidak digambarkan sebagai sosok yang patah.
Penjara justru menjadi ruang kontemplasi, tempat ia menulis, berdoa, dan menata ulang makna kebebasan yang sesungguhnya.
Drama itu mencapai puncaknya pada satu peristiwa yang telah menjadi catatan sejarah bangsa. Setelah bebas dan waktu berlalu, Hamka diminta memimpin salat jenazah Bung Karno.
Fuadi menuturkan momen ini dengan napas panjang, membiarkan ketegangan batin Hamka mengalir pelan. Di hadapan jenazah seorang presiden yang pernah memenjarakannya,
Hamka berdiri bukan sebagai orang yang menang atau kalah, melainkan sebagai hamba. Dendam tak mendapat tempat. Yang tersisa hanyalah doa, dan keyakinan bahwa kemanusiaan harus berdiri lebih tinggi dari luka pribadi.
Dalam penggambaran Fuadi, Hamka adalah ulama yang tidak memisahkan ilmu dari empati. Ia tegas menjaga prinsip, tetapi menolak membiarkan kebencian menetap di hatinya.
Ia memahami bahwa kekuasaan bisa berganti, ideologi bisa runtuh, tetapi akhlak adalah warisan yang paling panjang umurnya. Dari konflik dengan ayahnya, dari penjara politik, hingga dari sunyi yang berulang, Hamka tumbuh sebagai pribadi yang memilih memaafkan tanpa kehilangan keteguhan.
Novel ini mengalir seperti riwayat yang dituturkan dengan suara rendah, namun menghunjam. Bahasa Fuadi bergerak puitis tanpa melepaskan pijakan fakta, menjadikan sejarah sebagai lanskap bagi pergulatan batin manusia.
Melalui kisah Buya Hamka, pembaca diajak menyelami makna kesabaran, harga sebuah prinsip, dan kebesaran jiwa yang lahir bukan dari kemenangan, melainkan dari kemampuan menundukkan amarah. Sebuah kisah tentang iman yang diuji berkali-kali, namun tak pernah goyah.

8 bulan lalu
Cek kembali
8 bulan lalu
Tes kolom komentar
8 bulan lalu
Tes komenetarrrrrr
8 bulan lalu
Keren asli
8 bulan lalu
Test
8 bulan lalu
Tes komentar