Mataxpost| Pekanbaru – Sejak awal masa jabatan Gubernur Abdul Wahid dan Wakil Gubernur SF Haryanto, Provinsi Riau diselimuti ketegangan politik yang memecah belah masyarakat. (31/10)
Bukan hanya ketidakcocokan antara keduanya, tetapi dampak dari perselisihan itu pun merembet hingga ke akar rumput. Masyarakat terpecah dalam kubu-kubu pendukung yang saling menyerang dan hujat di media sosial.
Suasana gaduh dari isu defisit hingga politik identitas yang mereka pelihara selama delapan bulan ini akhirnya memunculkan kritik tajam dari berbagai elemen masyarakat, mahasiswa, dan pemuda Riau.
Aksi demonstrasi mahasiswa yang sempat viral dan menjadi trending topic, serta perbincangan yang tak kunjung reda di kedai kopi hingga tongkrongan anak muda di Pekanbaru, semakin memperburuk citra kedua pemimpin tersebut.
Namun, baru-baru ini, muncul sebuah video yang memperlihatkan Gubernur Abdul Wahid dan SF Haryanto berada dalam satu ruangan, berjabat tangan, dan menerima doa dan nasihat dari Ustad Abdul Somad yang berharap agar keduanya bisa membawa Provinsi Riau menuju kesejahteraan.
Video ini memunculkan pertanyaan besar: apakah tampaknya mereka sudah berdamai dan mengakhiri perang dingin yang terjadi di antara mereka? ataukah salah satu konten pencitraan mereka?, Seolah berdamai dalam perang yang tidak pernah ada, Apakah tujuannya untuk menurunkan tensi politik yang semakin memanas?
Lebih jauh lagi, apakah kedamaian ini akan mampu meredakan ketegangan di kalangan para loyalis dan relawan yang telah terbentuk sejak awal ketegangan mereka?
Salah satu pemuda senior Pekanbaru, yang enggan disebutkan namanya namun dikenal dengan inisial DK, menyatakan bahwa situasi ini bisa jadi bukan sekadar perselisihan, tetapi bagian dari strategi politik yang disengaja.
DK, yang telah lama mengamati perjalanan kepemimpinan mereka, menilai bahwa:
“apa yang tampak sebagai ketegangan di awal kepemimpinan sebenarnya bisa jadi merupakan upaya untuk menunjukkan kekuatan dan mendapatkan perhatian dari berbagai pihak,”ujarnya
Bahkan dengan meningkatkan tensi politik, keduanya bisa saja berusaha meraih keuntungan tertentu, khususnya bagi Wahid memposisikan loyalis loyalis nya dalam posisi strategis, dan juga SF Haryanto yang kerap tersudutkan dalam perdebatan ini.
Namun, menurut DK, yang sebenarnya terlibat dalam perpecahan ini adalah para loyalis dan pendukung di lapangan, yang merasa ada peluang untuk menguasai birokrasi dan posisi-posisi penting dalam pemerintahan.
Ketamakan dan keinginan untuk menguasai berbagai jabatan publik semakin terlihat jelas, sementara para tokoh politik, pengamat senior, dan masyarakat Riau hanya bisa menertawakan dalam kesedihan akan roda ekonomi yang tak berputar, sebagian masyarakat menyebutkan sebagai sandiwara politik kerdil.
Bagi DK, para pemuda, terutama yang ada di Pekanbaru menyatakan,
“Pemuda takkan mudah melupakan bagaimana kedua pemimpin ini telah memainkan skema yang memecah belah generasi muda, politik identitas, dengan tujuan yang disamarkan, dan memanfaatkan perpecahan untuk keuntungan pribadi dan kelompok,” tegasnya
Sebagian kalangan pun berpendapat bahwa meskipun tampaknya ada tanda-tanda rekonsiliasi, keretakan di kalangan masyarakat, terutama generasi Z, tidak akan mudah diperbaiki.
Sebab diantara mereka ada maksud dan tujuan tertentu yang suatu saat menjadi peristiwa yang hebohkan masyarakat Riau nantinya.
Aktivis Riau menilai kebijakan yang dikeluarkan selama keduanya memimpin harus terus dipantau dan diawasi.
Tahun 2025, dengan hasil rapor merah, bisa jadi menjadi penilaian awal terhadap kinerja kepemimpinan mereka.
Sebagai generasi yang lebih kritis dan sadar politik, mahasiswa, aktivis, dan jurnalis Riau akan terus mengawal kebijakan-kebijakan yang lahir dari pemerintahan ini.
Jika mereka gagal menjaga amanah, maka sejarah akan mencatat bahwa Riau kembali terluka, seperti yang pernah terjadi pada masa-masa sebelumnya dan menjadi yang Kepala Daerah Riau ke-4 yang berhenti ditengah jalan.
Tidak ada komentar