
.


Mataxpost | Pekanbaru, – Kelangkaan BBM kembali mengguncang Riau. Setelah Solar sempat hilang dari pasaran, kini Pertamax 92 dan Pertamax Turbo ikut menghilang dari sejumlah SPBU di Pekanbaru sejak sepekan terakhir (12/12).
Situasi ini langsung memantik kecurigaan publik, memunculkan berbagai dugaan soal adanya permainan dalam rantai distribusi migas di daerah penghasil minyak itu.

Di lapangan, keluhan warga mengalir deras. Para pengguna kendaraan pribadi terpaksa berkeliling dari satu SPBU ke SPBU lain hanya untuk menemukan dispenser kosong banyak yang pulang tanpa hasil.
Niko warga Harapan Raya, mengaku sudah empat hari gagal mendapatkan Pertamax.
βPernah dapat sekali, itu pun harus datang subuh,β ujarnya, menunjukkan betapa langkanya pasokan BBM non-subsidi tersebut.
Keluhan senada datang dari Herry Abas, yang telah menyisir tiga SPBU di Jalan Hang Tuah dan Jalan Thamrin. Semua kosong.
βRiau ini daerah migas, tapi BBM malah langka. Solar kemarin, sekarang Pertamax,β katanya, menilai pelayanan Pertamina semakin memburuk.

Pemerintah Provinsi Riau pun turun tangan. Sekdaprov Syahrial Abdi membenarkan kondisi kelangkaan dan mengatakan persoalan tersebut telah dibahas dalam rapat bersama Pertamina
Dilansir dari media center Riau, Plt Gubernur Riau, menurutnya, menuntut Pertamina menjamin ketersediaan setiap jenis BBM.
Pemprov kini memantau distribusi harian dan meminta Pertamina membuka setiap perubahan skenario suplai agar tak terjadi kekacauan di lapangan.
Dari pihak Pertamina Patra Niaga menyampaikan bahwa kelangkaan dipicu βdynamika penyaluranβ dari terminal BBM yang disebut sedang dalam proses normalisasi.
Akibatnya, distribusi ke sejumlah SPBU terlambat. Pertamina menyebut telah mengalihkan suplai melalui Fuel Terminal Sei Siak, dengan 1.300 KL Pertamax dan 1.300 KL Pertamax Turbo yang mulai dikirim ke SPBU secara bertahap.
Namun hingga kini, kondisi di lapangan belum pulih. Warga masih kesulitan mendapatkan BBM oktan tinggi, sementara kemacetan distribusi belum menunjukkan titik akhir.
Pertanyaan besar tetap menggantung di tengah publik: bagaimana mungkin krisis BBM terus berulang di wilayah yang selama ini menjadi lumbung energi nasional?

Tidak ada komentar