
.


Mataxpost | JAKARTA β Gedung Merah Putih Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dikepung massa Gerakan Mahasiswa Riau Jakarta (GEMARI Jakarta). Mereka mendesak KPK segera menangkap Pelaksana Tugas Gubernur Riau, SF Hariyanto, menyusul penggeledahan yang berujung pada penyitaan uang rupiah, valuta asing (dolar), serta sejumlah dokumen penting. (09/01)

Aksi unjuk rasa Jilid IV itu digelar di depan kantor KPK, Jumat (9/1/2026). Massa menilai penanganan perkara yang menyeret nama SF Hariyanto mandek dan sengaja dibiarkan menggantung tanpa kepastian hukum.
Koordinator Nasional GEMARI Jakarta, Kori Fatnawi, menegaskan bahwa penyitaan uang tunai dalam mata uang rupiah dan dolar, serta dokumen dari rumah dinas dan rumah pribadi SF Hariyanto, merupakan bukti kuat yang tidak bisa dipandang remeh.
βPenyitaan rupiah, dolar, dan dokumen bukan tindakan administratif biasa. Itu adalah indikasi kuat adanya dugaan tindak pidana. Kalau bukti sudah ada, mengapa KPK masih ragu menetapkan dan menangkap?β tegas Kori.

Menurut GEMARI Jakarta, hingga kini KPK belum mengumumkan nilai uang yang disita, fungsi dokumen yang diamankan, maupun kedudukan hukum SF Hariyanto dalam perkara tersebut.
Sikap bungkam KPK dinilai membuka ruang spekulasi dan mencederai prinsip transparansi serta kepastian hukum.

Kori juga mengingatkan publik bahwa sebelum penggeledahan, SF Hariyanto telah dipanggil KPK terkait Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) dan sempat menjadi sorotan akibat gaya hidup keluarga. Namun, rangkaian pemeriksaan itu tidak pernah dijelaskan hasilnya kepada publik.
βKetika pemanggilan, penggeledahan, dan penyitaan uang asing tidak diikuti langkah hukum tegas, publik wajar menduga ada perlakuan istimewa. KPK jangan kehilangan nyali,β ujarnya.
Dalam aksinya, GEMARI Jakarta secara terbuka mendesak KPK segera menaikkan status perkara dan menangkap SF Hariyanto apabila alat bukti telah memenuhi unsur hukum.
Mereka menegaskan desakan ini bukan penghakiman, melainkan tuntutan agar penegakan hukum berjalan tanpa tebang pilih.
Aksi berlangsung tertib di bawah pengawalan kepolisian. GEMARI Jakarta menyatakan akan terus mengepung ruang publik dengan tekanan moral dan politik hingga KPK berani membuka perkara ini secara terang dan bertanggung jawab kepada rakyat. ***

Tidak ada komentar