MENU Minggu, 05 Apr 2026
x
.

Heboh, Nyawa Karyawan Kembali Melayang di PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk

waktu baca 3 menit
Minggu, 5 Apr 2026 20:41

Mataxpost | Siak, – Kecelakaan kerja mematikan kembali mengguncang industri pulp dan kertas Indonesia. Seorang pekerja di PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk dilaporkan tewas setelah tertimpa gulungan kertas raksasa di area produksi perusahaan pada Kamis pagi, 2 April 2026, di Jalan Raya Minas–Perawang Km 26, Kabupaten Siak, Riau Province, Indonesia. (05/04)

Korban, Safrianto, saat itu tengah membersihkan area Auto Warehouse (AW), salah satu titik vital dalam proses penumpukan hasil produksi kertas. Dalam kondisi yang masih diselidiki, sebuah gulungan kertas industri berdiameter sekitar 1,5 meter dengan berat mencapai 3.357 kilogram tiba-tiba jatuh dan menghantam tubuh korban hingga terjepit. Ia sempat dilarikan ke klinik perusahaan, namun dinyatakan meninggal dunia saat tiba.

Peristiwa ini memicu sorotan keras terhadap penerapan standar keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di lingkungan industri berat. Amrizal menyoroti aspek legalitas dan operasional crane di area Auto Warehouse yang diduga berperan dalam jatuhnya gulungan tersebut.

Ia menegaskan bahwa kejadian ini tidak bisa dipandang sebagai risiko biasa dalam proses produksi karena menyangkut nyawa manusia.

Selain itu, organisasi SATU GARIS melalui koordinatornya, Ricky Fathir, mendesak Disnaker Riau untuk segera turun tangan melakukan investigasi serta memberikan sanksi tegas apabila ditemukan adanya pelanggaran keselamatan kerja.

Mereka juga mendesak aparat penegak hukum, termasuk Kepolisian Resor Siak dan Kepolisian Daerah Riau, agar segera melakukan penyelidikan menyeluruh dan menindak tegas jika terdapat unsur kelalaian.

Ricky Fathir menegaskan bahwa keselamatan pekerja harus menjadi prioritas utama dan tidak boleh diabaikan oleh perusahaan mana pun.

β€œNyawa adalah yang paling berharga. Perusahaan yang tidak mengedepankan K3 sudah layak diberikan sanksi, bahkan bila perlu ditutup,” tegasnya.

Di sisi lain, muncul sorotan tajam terhadap rekam jejak keselamatan kerja di perusahaan tersebut. Sejumlah pihak menilai bahwa insiden fatal bukan kali pertama terjadi, bahkan disebut hampir setiap tahun terdapat korban meninggal dunia di lingkungan kerja.

Namun, informasi terkait kejadian-kejadian tersebut diduga tidak sepenuhnya terbuka ke publik, sementara perbaikan signifikan terhadap sistem K3 dinilai belum berjalan optimal.

Sementara itu, Kepala Disnaker Riau,Roni Rakhmat, S.STP., M.Si. saat dikonfirmasi menyampaikan bahwa pihaknya telah turun langsung ke lokasi untuk melakukan pemeriksaan awal terkait insiden tersebut.

Ia juga menegaskan bahwa pada hari berikutnya, Disnaker akan menurunkan tim lengkap untuk melakukan evaluasi menyeluruh.

β€œKami sudah turun dan memeriksa kejadian ini. Besok tim penuh akan melakukan evaluasi secara menyeluruh untuk mengetahui penyebab kejadian beruntun ini, termasuk faktor-faktor yang memicunya,” ujarnya.

Hingga saat ini, pihak perusahaan melalui Humas Hardi belum memberikan pernyataan resmi, meski upaya konfirmasi dari wartawan telah dilakukan. Ketiadaan respons ini semakin memperkuat tuntutan publik akan transparansi dan akuntabilitas.

Desakan untuk melakukan investigasi menyeluruh dan terbuka pun semakin menguat, dengan harapan mampu mengungkap penyebab pasti insiden serta mendorong pembenahan serius terhadap sistem keselamatan kerja.

Tragedi ini kembali menjadi pengingat bahwa dalam industri berisiko tinggi, kelalaian sekecil apa pun dapat berujung pada hilangnya nyawa.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    x