Mataxpost | Pekanbaru, – Masa bakti Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Riau, Maizar, resmi berakhir. Momen perpisahan ini digelar penuh kekeluargaan dan penghormatan tinggi di kantor Kanwil Ditjenpas Riau, Jumat (29/5/2026), menandai berakhirnya perjalanan panjang pengabdiannya dalam memajukan sistem pembinaan warga binaan di Provinsi Riau. (30/05)
Acara pelepasan ini menjadi saksi apresiasi tulus dari seluruh elemen pemasyarakatan atas dedikasi dan kinerja Maizar selama memimpin lembaga tersebut. Kehadiran sejumlah tokoh dan pejabat menunjukkan betapa besar pengaruh serta rasa hormat yang tumbuh selama ia menjabat.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Pelaksana Harian (Plh.) Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Pekanbaru, Yusup Gunawan, bersama jajaran pimpinan Kanwil Ditjenpas Riau, seluruh Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) se-Riau, perwakilan Dharma Wanita Persatuan, PIPAS Daerah Riau, serta para pegawai yang ingin turut melepas kepergian pimpinannya.
Suasana haru mulai terasa sejak awal acara, di mana Maizar dan istri disambut dengan rangkaian adat Melayu yang kental.
Pemasangan tanjak, pemberian karangan bunga, hingga tarian pembuka yang ditampilkan langsung oleh Warga Binaan Pemasyarakatan menjadi simbol hangatnya kebersamaan yang telah terjalin selama ini.
Keharuan semakin mendalam saat layar memutar rekam jejak perjalanan karier Maizar. Video pendek itu menampilkan berbagai momen kerja, kebijakan strategis, hingga keberhasilan yang diraih bersama tim, menjadi pengingat betapa banyak hal positif yang telah ditorehkan selama masa kepemimpinannya.
Banyak pegawai yang mengaku akan sangat merindukan sosok pemimpin yang dikenal rendah hati, tegas, namun selalu dekat dengan jajaran.
Dalam sesi kesan dan pesan, terungkap bagaimana gaya kepemimpinan Maizar mampu memotivasi semua pihak untuk bekerja lebih baik dan melayani masyarakat dengan sepenuh hati.
Saat memberikan sambutan perpisahan, Maizar tak kuasa menahan rasa syukur dan terima kasihnya. Ia menegaskan bahwa bertugas di Riau bukan sekadar urusan pekerjaan, melainkan menjadi bagian dari sejarah hidupnya yang paling berkesan.
โBagi saya, Riau bukan sekadar tempat mencari nafkah. Di sini saya menemukan makna kebersamaan, belajar arti loyalitas, ketulusan, dan pengabdian yang sesungguhnya. Riau sudah saya anggap sebagai rumah kedua bagi saya dan keluarga,โ ucap Maizar dengan nada bergetar di hadapan para hadirin.
Di sisi lain, Plh. Kalapas Kelas IIA Pekanbaru, Yusup Gunawan, menilai kepergian Maizar adalah kehilangan besar bagi keluarga besar pemasyarakatan, namun meninggalkan warisan berharga.
Berbagai terobosan, pembenahan sistem, dan peningkatan kualitas pelayanan yang dilakukan Maizar menjadi pondasi kuat yang akan diteruskan oleh generasi selanjutnya.
โBeliau meninggalkan standar kerja yang tinggi dan teladan integritas. Semua capaian ini menjadi modal kami untuk terus memajukan pemasyarakatan Riau ke arah yang lebih baik,โ ungkap Yusup mewakili seluruh jajaran.
Seremoni ditutup dengan serangkaian tradisi, mulai dari penyerahan cenderamata, penyerahan hak Taspen, pemotongan tumpeng, hingga ramah tamah.
Puncak acara yang paling ditunggu adalah prosesi adat Pedang Pora, iring-iringan kehormatan yang mengantar Maizar dan istri meninggalkan halaman kantor.
Prosesi ini adalah bentuk penghormatan tertinggi atas seluruh jasa dan pengabdian yang telah disumbangkan bagi kemajuan daerah.
Melalui momen bersejarah ini, Lapas Kelas IIA Pekanbaru kembali menegaskan tekad untuk menjaga kekompakan dan sinergi antarinstansi.
Pelepasan ini bukan akhir dari hubungan, melainkan awal kenangan indah sosok pemimpin yang telah membuktikan cintanya pada kemajuan pemasyarakatan di Bumi Lancang Kuning.
Tidak ada komentar