MENU Minggu, 19 Apr 2026
x
. .

Gabungan Mahasiswa Rohil Gelar Aksi Unjuk Rasa, Desak Kapolda Copot Kapolres Rokan Hilir

waktu baca 2 menit
Minggu, 19 Apr 2026 03:25

Mataxpost | Riau, – 50 gabungan organisasi mahasiswa Rokan Hilir menggelar aksi unjuk rasa pada Kamis (17-4-2026) di depan Mapolres Rokan Hilir. Para mahasiswa berangkat dari Kota Bagansiapiapi sekitar pukul 14.00 WIB dan tiba di Mapolres Rokan Hilir sekitar pukul 16.00 WIB. (19/04)

Dilansir dari media spiritriau.com, dalam tuntutannya, Ketua Mahasiswa Rokan Hilir, Eka Rahayu WP, meminta agar Kapolres Rokan Hilir dicopot dari jabatannya. Ia menilai Kapolres tidak layak memimpin di wilayah tersebut karena tidak menunjukkan prestasi selama menjabat.

Menurut Eka, aksi ini merupakan akumulasi dari berbagai persoalan yang dianggap sebagai catatan buruk selama kepemimpinan Kapolres Rokan Hilir.

Mahasiswa menilai Kapolres memiliki โ€œrapor merahโ€ dengan beberapa alasan berikut:

1. Transformasi wilayah menjadi โ€œzona nyamanโ€ kriminalitas

Mahasiswa menilai lemahnya pengawasan membuat hukum tidak berjalan tegas. Akibatnya:

Praktik pelanggaran seperti galian C ilegal dan prostitusi disebut beroperasi terbuka di sekitar Mapolres, sehingga muncul kesan hukum dapat dikompromikan.

Peredaran narkoba dinilai semakin masif karena lemahnya pemetaan dan penindakan, termasuk di wilayah Pasir Limau Kapas, hingga merambah ke pelosok desa.

2. Krisis wibawa institusi di mata masyarakat

Masyarakat disebut mulai bertindak sendiri dalam beberapa kasus karena kurangnya kepercayaan terhadap penegakan hukum, termasuk terjadinya kerusuhan di Pasir Limau Kapas.

Warga dinilai kehilangan rasa aman, termasuk dalam kasus dugaan pelecehan seksual di Tanah Putih yang dianggap tidak ditangani secara transparan.

3. Runtuhnya disiplin dan keselamatan personel

Kematian seorang personel di tempat hiburan malam disebut sebagai puncak lemahnya pengawasan internal.

Kurangnya pengendalian dianggap memicu pelanggaran kode etik anggota.

Lemahnya pengawasan juga dinilai meningkatkan risiko keselamatan personel di lapangan.

4. Maladministrasi dan kegagalan operasional

Kasus tahanan kabur melalui jendela kamar mandi dinilai mencerminkan lemahnya manajemen keamanan dan fasilitas.

Hal tersebut dianggap sebagai kegagalan struktural dalam pengawasan rutin dan standar keamanan markas.

Sejumlah kasus yang tidak tuntas juga dinilai menimbulkan penumpukan perkara.

5. Hambatan pembangunan dan investasi daerah

Lemahnya kepastian keamanan dinilai membuat investor enggan masuk ke Rokan Hilir.

Kondisi ini dianggap menghambat pembangunan daerah akibat meningkatnya potensi konflik dan gangguan keamanan.

Aksi mahasiswa tersebut diterima oleh Wakapolres Rokan Hilir, Kompol Rikky Operiady S.Sos., S.I.K., M.I.K., yang menyatakan akan menyampaikan aspirasi tersebut kepada Kapolres Rokan Hilir.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    x