Network
𝐌 𝐀 𝐓 𝐀 - 𝐗 𝐏 𝐎 𝐒 𝐓
Tiada Kebenaran Yang Mendua
Bola dunia MataXPOST
MENU Senin, 12 Okt 2026
x

SATU GARIS Desak Bareskrim Bongkar Dugaan Jaringan Pemasok hingga Pabrik Narkoba MP Club

waktu baca 5 menit
Senin, 12 Okt 2026 15:57

PEKANBARU,- Perwakilan Organisasi SATU GARIS, Ricky Fathir di Pekanbaru mendesak Mabes Polri melalui Bareskrim mengusut tuntas dugaan peredaran narkotika hingga Pabrik narkoba di tempat hiburan malam MP Club Pekanbaru. (12/10)

Ia meminta penyidikan tidak berhenti pada pemeriksaan pengunjung, tetapi dikembangkan untuk menelusuri sumber pasokan, jaringan distribusi, pihak-pihak yang diduga mengendalikan peredaran, hingga informasi mengenai dugaan fasilitas produksi ekstasi dan sabu yang disebut-sebut masih beroperasi.

Desakan tersebut menyusul penggerebekan yang dilakukan tim Subdirektorat III Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri di MP Club Pekanbaru. Dalam operasi itu, sebanyak 60 pengunjung dinyatakan positif menggunakan narkotika berdasarkan pemeriksaan urine, terdiri atas 39 laki-laki dan 21 perempuan.

Kepala Subdirektorat III Dittipidnarkoba Bareskrim Polri, Komisaris Besar Polisi Zulkarnain Harahap, sebelumnya menyampaikan bahwa penggerebekan dilakukan setelah tim menerima informasi mengenai dugaan peredaran ekstasi di tempat hiburan malam tersebut.

Dalam rangkaian informasi awal penyelidikan, muncul nama seseorang berinisial RW yang disebut sebagai kepala keamanan atau chief security MP Club Pekanbaru.

Nama tersebut dikaitkan dengan informasi mengenai dugaan sumber perolehan ekstasi yang kini menjadi salah satu hal yang didesak untuk ditelusuri lebih lanjut.

Perwakilan SATU GARIS, Ricky Fathir, mempertanyakan sejauh mana informasi mengenai RW telah ditindaklanjuti penyidik.

Ia mendesak Bareskrim memberikan penjelasan mengenai perkembangan penanganan informasi tersebut, termasuk apakah RW telah dimintai keterangan dan bagaimana penyidik mendalami dugaan keterkaitannya dengan asal-usul ekstasi.

“Jika nama RW sudah disebut dalam informasi awal penyelidikan, apa tindak lanjut Bareskrim? Apakah yang bersangkutan sudah diperiksa? Apakah keterangannya sudah didalami? Jangan sampai penggerebekan dilakukan dan puluhan pengunjung dinyatakan positif narkotika, tetapi pertanyaan mengenai sumber ekstasi serta jalur peredarannya tidak terjawab,” tegas Ricky.

Selain nama RW, sorotan juga mengarah kepada seseorang berinisial HK yang disebut-sebut berada di balik operasional MP Club Pekanbaru.

Ricky meminta penyidik mendalami informasi mengenai HK untuk memastikan posisi, peran, serta kemungkinan keterkaitannya dengan dugaan jaringan peredaran narkotika di tempat hiburan malam tersebut.

Menurutnya, informasi mengenai HK tidak boleh diabaikan apabila relevan dengan pengembangan perkara. Namun, dugaan keterlibatan siapa pun harus diuji melalui pemeriksaan dan alat bukti yang sah, bukan semata-mata berdasarkan informasi yang beredar.

SATU GARIS mendesak Bareskrim menelusuri apakah terdapat hubungan antara pihak-pihak yang menjalankan operasional tempat hiburan, sumber pasokan ekstasi, dan jalur distribusi narkotika.

Penelusuran itu dinilai penting agar penyidikan tidak hanya berfokus pada orang-orang yang terjaring saat penggerebekan.

“Yang perlu dijawab bukan hanya siapa yang menggunakan narkotika, tetapi juga dari mana barang itu berasal, siapa yang memasok, bagaimana jalur distribusinya, dan siapa saja yang memiliki peran apabila memang ditemukan keterkaitan berdasarkan bukti,” ujar Ricky.

Ricky juga menyoroti berbagai informasi yang beredar di masyarakat mengenai mendiang Dedi Handoko alias DH, yang dikenal sebagai pemilik MP Club Pekanbaru.

Sejumlah informasi tersebut mengaitkan DH dengan dugaan kepemilikan ekstasi yang disebut-sebut beredar di tempat hiburan malam itu. Selain itu, beredar pula informasi mengenai dugaan kepemilikan fasilitas produksi narkotika yang perlu ditelusuri aparat penegak hukum.

Ia menyebut, semasa DH masih hidup, namanya dikenal memiliki pengaruh besar dalam bisnis hiburan malam di Kota Pekanbaru.

Dalam dinamika persaingan usaha kala itu, sejumlah tempat hiburan malam lainnya disebut mengalami kemunduran di tengah ketatnya persaingan bisnis.

Menurut Ricky, dinamika persaingan usaha harus dipisahkan dari persoalan pidana. Namun, apabila terdapat informasi yang menunjukkan kemungkinan keterkaitan pihak-pihak tertentu dengan dugaan peredaran narkotika, aparat perlu menelusurinya secara profesional berdasarkan fakta dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Semasa DH masih hidup, namanya dikenal memiliki pengaruh besar dalam bisnis hiburan malam di Pekanbaru. Kini, setelah penggerebekan MP Club dan ditemukannya puluhan pengunjung yang positif narkotika, Mabes Polri harus menelusuri apakah masih ada jaringan yang melanjutkan dugaan peredaran tersebut. Ungkap siapa pemasoknya, siapa yang mendistribusikan, dan siapa yang diduga mengendalikan jaringan itu,” ujarnya.

Ricky menegaskan, meninggalnya DH tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan penelusuran terhadap kemungkinan adanya jaringan yang masih aktif.

Jika penyidik menemukan indikasi keterlibatan pihak lain, peran masing-masing harus diidentifikasi, jalur pasokan ditelusuri, dan kemungkinan hubungan mereka dengan dugaan peredaran ekstasi di MP Club didalami berdasarkan alat bukti.

Sorotan berikutnya tertuju pada informasi mengenai dugaan keberadaan fasilitas produksi ekstasi dan sabu yang disebut-sebut masih beroperasi.

Ricky meminta Mabes Polri memverifikasi informasi tersebut, termasuk memastikan apakah fasilitas yang dimaksud benar-benar ada, siapa yang diduga mengelolanya, serta apakah terdapat hubungan dengan jaringan distribusi narkotika di Pekanbaru.

“Informasi mengenai dugaan pabrik ekstasi maupun sabu yang disebut masih beroperasi harus ditelusuri secara serius. Siapa yang menjalankannya? Dari mana pasokannya berasal? Ke mana hasil produksinya didistribusikan? Mabes Polri harus menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut melalui penyelidikan yang menyeluruh,” tegas Ricky.

Ia menilai, pengungkapan perkara narkotika harus dilakukan secara menyeluruh dengan menelusuri kemungkinan hubungan antara pengedar di lapangan, pemasok, pihak yang mengendalikan distribusi, dan dugaan fasilitas produksi.

Menurutnya, penindakan terhadap pengguna tidak cukup untuk menjawab persoalan apabila asal-usul pasokan dan pihak-pihak lain yang diduga terlibat belum ditelusuri.

SATU GARIS meminta Mabes Polri menjelaskan perkembangan penyidikan kasus MP Club Pekanbaru, terutama tindak lanjut terhadap informasi yang menyebut nama RW dan HK, penelusuran asal-usul ekstasi, serta pendalaman dugaan keberadaan fasilitas produksi narkotika.

Ricky menegaskan, penegakan hukum harus dilakukan tanpa pandang bulu dan tidak dipengaruhi kedudukan maupun kekuatan ekonomi.

Setiap pihak yang terbukti terlibat harus diproses sesuai ketentuan hukum, sedangkan pihak yang namanya muncul dalam informasi awal harus tetap diperlakukan berdasarkan asas praduga tak bersalah.

“Sekarang saatnya Mabes Polri mengusut perkara ini hingga tuntas. Perjelas informasi mengenai RW dan HK, telusuri sumber ekstasi, bongkar jalur distribusinya, dan dalami dugaan keberadaan pabrik ekstasi maupun sabu. Jangan hanya pengunjung yang diperiksa, sementara dugaan jaringan pemasok dan pengendali peredaran tidak ditelusuri. Masyarakat menunggu pengungkapan yang menyeluruh dan penjelasan yang transparan,” tutup Ricky Fathir.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    x