PEKANBARU, – Warga Pekanbaru dan sejumlah daerah di Riau kembali dilanda kecemasan menyusul munculnya kabut asap dan masih tingginya titik panas. Kondisi ini memicu kekhawatiran karhutla kembali meluas dan mengganggu kesehatan masyarakat. (15/09)
Data BMKG pada Selasa, 15 September 2026, mencatat **96 hotspot** di Riau. Jumlah terbanyak berada di Indragiri Hulu sebanyak 70 titik, Dumai tujuh, Pelalawan enam, Kampar empat, Indragiri Hilir empat, Siak dua, serta Bengkalis, Kepulauan Meranti dan Rokan Hulu masing-masing satu titik.
Di Pekanbaru, kabut asap kembali dirasakan warga. Kualitas udara memburuk dan masyarakat mulai mengurangi aktivitas di luar rumah serta menggunakan masker.
Dampak asap juga dirasakan salah seorang anggota DPRD Kota Pekanbaru berinisial AR Saat dikonfirmasi mengenai kondisinya, AR membenarkan dirinya sedang kurang sehat akibat asap.
“Iya, dalam keadaan kurang sehat akibat asap,”ujar AR.
Kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa kabut asap bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi sudah berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat.
“Setiap tahun masalahnya seperti ini. Begitu kemarau, hotspot muncul dan asap kembali datang. Kami masyarakat yang akhirnya terkena dampaknya,” keluh Rika seorang warga Pekanbaru.
Warga lainnya meminta pemerintah dan seluruh instansi terkait tidak hanya bergerak ketika kebakaran sudah membesar.
“Kalau ada titik panas, segera turun dan cek. Kalau memang terbakar, langsung padamkan dan cari siapa yang bertanggung jawab,” ujarnya.
Sorotan masyarakat pun tidak hanya diarahkan kepada Polda Riau. Pemprov Riau, pemerintah kabupaten/kota, BPBD, TNI, Manggala Agni dan seluruh instansi yang diberi mandat negara menangani karhutla harus ikut bertanggung jawab terhadap hasil penanganan di lapangan.
Kritik terhadap Pemprov Riau juga menguat ketika di tengah persoalan karhutla, Plt Gubernur Riau SF Hariyanto diketahui berada di Semarang menyaksikan pertandingan PSPS Pekanbaru melawan PSIS Semarang pada Jumat, 11 September 2026. Kehadiran tersebut diberitakan sejumlah media dan juga terlihat dalam dokumentasi kegiatan.
Kegiatan mendukung PSPS tentu bukan persoalan. Namun ketika Riau kembali menghadapi ancaman kabut asap dan hotspot, publik berhak mempertanyakan seberapa kuat prioritas pimpinan daerah ditempatkan pada penanganan karhutla dan kondisi masyarakat yang terdampak.**
Pertanyaan serupa juga muncul terhadap jajaran kepolisian. Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan sebelumnya berada di Johor Bahru, Malaysia, pada 7–9 September 2026 untuk pertemuan dengan kepolisian Johor dan Melaka. Dalam agenda tersebut, Kapolda memaparkan penanganan karhutla Riau dan kerja sama lintas negara.
Agenda tersebut secara resmi berkaitan dengan penanganan karhutla dan kerja sama keamanan kawasan. Namun ketika beberapa hari kemudian hotspot kembali tinggi dan kabut asap kembali dirasakan masyarakat, publik tentu mempertanyakan prioritas, kehadiran dan efektivitas pimpinan dalam memastikan persoalan di wilayah Riau benar-benar terkendali.



































































































.


Tidak ada komentar