
.


Mataxpost | Siak, – Persoalan peredaran narkoba di Kecamatan Tualang, khususnya kawasan Perawang, mendapat sorotan serius dalam kegiatan Reses III Masa Sidang III Tahun 2026 Anggota DPRD Siak H. Asril, SH, di Kelurahan Perawang, Senin (27/7/2026).
Dalam kegiatan penyerapan aspirasi tersebut, seorang ibu lanjut usia yang meminta identitasnya tidak disebutkan menyampaikan keluhan mengenai maraknya peredaran narkoba di lingkungan tempat tinggalnya. Ia bahkan mengaku keluarganya telah menjadi korban penyalahgunaan narkoba.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat masyarakat membutuhkan fasilitas rehabilitasi yang mudah dijangkau, khususnya bagi mereka yang ingin keluar dari ketergantungan narkoba.
“Di lingkungan saya itu banyak kali beredar narkoba. Bahkan keluarga saya sudah ada yang menjadi korban narkoba. Tadi saya sudah sampaikan kepada Pak Asril kalau bisa di Perawang ini dibuat tempat rehabilitasi narkoba untuk membantu seseorang lepas dari ketergantungan narkoba,” ungkapnya.
Aspirasi tersebut mendapat respons dari Asril. Anggota DPRD Siak itu mengaku prihatin dengan kondisi yang disampaikan masyarakat dan mengatakan bahwa pembangunan fasilitas rehabilitasi narkoba sudah lama menjadi salah satu cita-cita yang ingin diwujudkannya.
Asril bahkan menggambarkan kondisi Perawang dengan istilah “stadium 4” untuk menunjukkan tingkat keprihatinannya terhadap persoalan peredaran narkoba di wilayah tersebut.
“Perawang ini sudah stadium 4 (peredaran) narkoba. Saya dari dulu memiliki cita-cita bakal membangun gedung rehabilitasi narkoba,” ujar Asril dilansir dari infosiak
Menurut Asril, keberadaan pusat rehabilitasi diperlukan agar masyarakat yang telah terjerat narkoba tidak hanya mendapatkan penanganan, tetapi juga memiliki kesempatan untuk memulihkan kondisi fisik dan mental serta mengatasi ketergantungan terhadap narkotika.
“Dengan adanya rehabilitasi narkoba di kabupaten ini seseorang bisa lepas dari narkoba secara total, memulihkan kondisi fisik, serta memperbaiki mental dan mengatasi ketergantungan zat narkoba,” jelasnya.
Ia juga menilai pendekatan kerohanian atau spiritual dapat menjadi salah satu bagian dalam proses pemulihan. Pendekatan tersebut, kata dia, dapat menggunakan nilai-nilai agama dan moral untuk membantu korban penyalahgunaan narkotika kembali menjalani kehidupan secara lebih baik.
Asril mengatakan dirinya akan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk menindaklanjuti aspirasi masyarakat tersebut.
“Saya turut prihatin dengan apa yang menimpa keluarga ibu tadi. Kedepan saya akan berkoordinasi dengan pihak,” katanya.
Dalam kegiatan reses itu, Asril sebelumnya menegaskan bahwa berbagai masukan masyarakat akan dibawa ke DPRD untuk dibahas dan diperjuangkan agar dapat diakomodasi dalam program pemerintah daerah.
“Reses ini menjadi momen penting bagi saya untuk menyerap langsung aspirasi masyarakat. Semua masukan dan usulan yang disampaikan akan kami bawa ke rapat pembahasan di DPRD agar dapat ditindaklanjuti dan diakomodir dalam program pemerintah,” ujar Asril.
Pernyataan mengenai kondisi “stadium 4” tersebut menjadi alarm serius di tengah keluhan warga mengenai peredaran narkoba di Perawang. Namun, penanganan persoalan tersebut tidak cukup hanya dengan penindakan hukum.
Aspirasi pembangunan fasilitas rehabilitasi menunjukkan adanya kebutuhan terhadap pendekatan yang juga menyentuh sisi pemulihan dan pencegahan agar korban penyalahgunaan narkotika mendapatkan jalan untuk kembali pulih.
Bunga Cantika














.
.
.


Tidak ada komentar