Riau,- Provinsi Riau bukan lagi hanya dikenal sebagai salah satu daerah penghasil minyak dan gas. Dalam satu dekade terakhir, Riau juga menghadapi persoalan serius berupa peredaran narkotika yang menjadikannya pasar menggiurkan bagi jaringan pengedar lintas daerah dan lintas negara. (24/09)
Puluhan kilogram sabu siap edar, puluhan ribu butir ekstasi, kemunculan narkotika jenis baru hingga ribuan orang yang telah dijebloskan ke penjara ternyata belum membuat narkoba surut.
Barang haram itu seperti tak pernah kehabisan jalan. Setiap kali satu jaringan dibongkar, pasokan kembali muncul dengan jumlah, modus dan jalur berbeda. Bahkan pengungkapannya semakin besar dan spektakuler.
Kondisi tersebut menunjukkan persoalan narkoba di Riau bukan sekadar mengenai banyaknya pelaku yang berhasil ditangkap. Ada mata rantai pasokan yang terus bekerja, mulai dari pemasok, pemodal, pengangkut, pengendali hingga jaringan distribusi di daratan.
Jika penindakan terus dilakukan tetapi pasokan tidak pernah benar-benar terputus, maka persoalan mengenai akar jaringan narkoba yang beroperasi di Riau menjadi semakin penting untuk ditelusuri.
Jaringan narkotika berskala besar tidak hanya membutuhkan kurir dan tekong. Mereka membutuhkan modal, logistik, komunikasi, informasi serta kemampuan membaca pergerakan aparat. Karena itu, celah dalam sistem juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan dalam membongkar jaringan.
Kartel tidak hanya membutuhkan kapal untuk membawa barang, tetapi juga membutuhkan uang, informasi, akses dan perlindungan.
Persoalan tersebut menjadi semakin serius ketika oknum aparat penegak hukum sendiri pernah terseret dalam perkara narkotika. Indonesia memiliki preseden melalui perkara Irjen Pol. Teddy Minahasa.
Dalam proses etik, Polri menyatakan Teddy terbukti memerintahkan penyisihan 41,4 kilogram sabu dan penyerahan 5 kilogram untuk dijual. Perkara tersebut menunjukkan bahwa jaringan narkotika dapat bersinggungan dengan aparat yang memiliki kewenangan penegakan hukum.
Karena itu, pengawasan internal terhadap aparat menjadi bagian penting dalam pemberantasan narkoba. Dugaan kebocoran informasi operasi, perlindungan terhadap jaringan, penyalahgunaan kewenangan maupun hubungan dengan pemodal narkotika perlu ditelusuri apabila terdapat bukti.
Jaringan besar dapat bertahan bukan hanya karena kekuatan modal, tetapi juga karena kemampuan memperoleh akses dan memanfaatkan celah dari oknum aparat.
Dalam konteks Riau, pengungkapan 47,5 kilogram sabu dan 20.044 butir ekstasi oleh Bareskrim Polri bersama Bea Cukai Dumai kembali memperlihatkan besarnya potensi pergerakan narkotika melalui jalur laut. Kasus tersebut bermula dari informasi mengenai rencana pengiriman narkotika dari Malaysia menuju Bagansiapiapi. Tim Bareskrim melakukan pemantauan di kawasan pesisir dan perairan Bagansiapiapi hingga menemukan kapal kayu yang dicurigai.
Pengejaran kemudian berakhir di sekitar Pulau Halang. Fendi alias Aping, tekong kapal, berhasil diamankan. Dari pemeriksaan awal, penyidik memperoleh keterangan bahwa enam kardus narkotika berkaitan dengan pengambilan barang di perairan Kuala Sinaboi. Sementara Ari dan Alu alias Yucin masih masuk daftar pencarian orang.






































































































Tidak ada komentar