тαʝαм мєℓιнαт ƒαктα
𝐌 𝐀 𝐓 𝐀 - 𝐗 𝐏 𝐎 𝐒 𝐓
Tiada Kebenaran Yang Mendua
Bola dunia MataXPOST
MENU Rabu, 16 Sep 2026
x
.

BBM Riau Langka, Dugaan Permainan Volume hingga Segel Tangki Truk di Depot Pertamina Sei Duku Mencuat

waktu baca 5 menit
Rabu, 16 Sep 2026 13:00

PEKANBARU, – Kelangkaan dan antrean panjang BBM subsidi di sejumlah wilayah Riau membuka persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar ketersediaan stok. Informasi mengenai dugaan permainan distribusi BBM kini mengarah pada rantai yang lebih panjang, mulai dari depot, proses pengisian dan tera, mobil tangki, perjalanan menuju SPBU, hingga titik-titik persinggahan tertentu. (16/09)

Pola yang mencuat perlu dibongkar secara menyeluruh. Mobil tangki masuk ke depot, menjalani proses pengisian dan pengukuran, menerima dokumen pengiriman, kemudian bergerak menuju SPBU.

Namun, informasi yang beredar menyebut adanya dugaan permainan volume sejak kendaraan masih berada di dalam depot hingga perjalanan menuju titik penerimaan.

Salah satu sumber informasi yang paling serius adalah dugaan adanya volume BBM tertentu yang sejak awal disebut lebih besar dibandingkan volume resmi yang tercatat dalam dokumen.

Jika pola ini benar terjadi, pertanyaan utamanya bukan lagi semata-mata mengenai sopir mobil tangki, melainkan bagaimana kelebihan volume tersebut bisa muncul, siapa yang mengetahui, siapa yang memiliki kewenangan melakukan pengukuran, bagaimana pencatatannya, dan bagaimana kendaraan dapat meninggalkan depot dengan kondisi tersebut.

Informasi yang beredar bahkan mengarah pada dugaan adanya pola transaksi berantai: kelebihan volume disebut menjadi bagian yang kemudian “diperjualbelikan”, sementara sopir diduga memberikan sejumlah uang dalam proses pengeluaran kendaraan.

Pos tera menjadi salah satu titik yang perlu diperiksa secara serius, termasuk apakah terdapat transaksi atau kesepakatan tertentu yang berkaitan dengan hasil pengukuran volume.

Rantai dugaan tersebut juga mengarah pada jalur pengamanan kendaraan. Jika terdapat informasi mengenai pemberian uang kepada pihak yang bertugas melakukan pengawasan kendaraan, maka hal itu perlu diuji melalui bukti, bukan sekadar berhenti pada pengakuan ataupun bantahan.

Di sinilah persoalan menjadi serius. Sebab, apabila volume BBM dapat berubah atau terdapat kelebihan yang tidak tercermin secara jelas dalam dokumen, maka sistem pengawasan di depot patut diperiksa dari hulu hingga hilir.

Pertanyaannya sederhana tetapi mendasar: berapa volume yang seharusnya dimuat, berapa volume yang benar-benar masuk ke tangki, berapa yang tercatat dalam sistem, siapa yang melakukan tera, siapa yang mengesahkan hasil pengukuran, dan berapa volume yang akhirnya diterima SPBU?

Semua tahapan tersebut seharusnya meninggalkan jejak. Data tera, dokumen pengiriman, sistem pencatatan, CCTV, waktu kendaraan masuk dan keluar, data akses, pemasangan segel atau pengaman, hingga perjalanan kendaraan dapat digunakan untuk membuktikan apakah volume yang tercatat benar-benar sesuai dengan kondisi fisik kendaraan.

Karena itu, pemeriksaan tidak boleh hanya diarahkan kepada sopir. Rantai pengawasan di dalam depot juga harus diperiksa, termasuk proses pengisian, tera, administrasi, penerbitan dokumen, pengamanan kendaraan dan pemeriksaan sebelum mobil tangki keluar dari area depot.

Jika benar terdapat kelebihan volume, maka harus dijawab secara teknis dan administratif: dari mana kelebihan itu berasal, kapan terjadi, siapa yang mengukur, bagaimana dicatat, siapa yang mengesahkan, serta apakah kondisi tersebut terjadi secara kebetulan atau berulang pada kendaraan tertentu.

Lebih jauh, pola perjalanan mobil tangki setelah meninggalkan depot juga patut menjadi perhatian. Informasi yang beredar menyebut adanya kendaraan tertentu yang diduga tidak langsung menuju SPBU, melainkan sempat berhenti di lokasi pinggir jalan yang dari luar tampak seperti rumah makan.

Titik singgah semacam itu tentu tidak otomatis menunjukkan adanya penyimpangan. Namun, apabila terdapat pola pemberhentian berulang pada kendaraan tertentu, terutama apabila waktu berhenti tidak wajar dan kemudian terdapat selisih volume ketika tiba di SPBU, maka lokasi tersebut layak diperiksa.

Dengan demikian, dugaan permainan tidak boleh dilihat sebagai satu kejadian yang berdiri sendiri. Rantainya harus ditelusuri dari volume di dalam tangki, proses tera, pengawasan kendaraan, dokumen pengiriman, segel, pintu keluar depot, perjalanan sopir, titik singgah, hingga volume yang benar-benar diterima SPBU.

Pertamina perlu membuka audit berbasis data terhadap perjalanan mobil tangki secara menyeluruh. Bukan sekadar memeriksa dokumen, tetapi mencocokkan dokumen dengan rekaman CCTV, data GPS, waktu tempuh, titik pemberhentian, hasil tera, segel kendaraan dan volume penerimaan di SPBU.

Armada yang berulang kali menunjukkan pola tidak biasa juga perlu menjadi perhatian. Apakah kendaraan tertentu memiliki catatan selisih volume? Apakah kendaraan tertentu berulang kali berhenti di lokasi yang sama? Apakah waktu tempuhnya sesuai dengan rute? Apakah volume yang diterima SPBU sesuai dengan surat jalan? Dan apakah terdapat pola yang berulang?

Informasi mengenai dugaan pola serupa juga disebut tidak hanya berkaitan dengan Depot Pemasaran Sei Duku, tetapi turut mengarah ke Depot Pemasaran Kota Dumai. Jika ditemukan indikasi yang sama, pemeriksaan perlu diperluas untuk memastikan apakah persoalan hanya terjadi pada kasus tertentu atau terdapat pola yang lebih luas dalam rantai distribusi.

Yang perlu dibongkar bukan asumsi bahwa seluruh petugas terlibat. Yang harus ditemukan adalah siapa melakukan apa, pada tahapan mana penyimpangan terjadi, bagaimana volume bisa berbeda, siapa yang memiliki kewenangan pada titik tersebut, dan ke mana BBM yang diduga berlebih kemudian mengalir.

Sebab jika benar sejak depot telah terjadi penyimpangan volume dan kemudian berlanjut dalam perjalanan mobil tangki hingga titik penerimaan SPBU, maka rantai distribusi BBM subsidi patut dipertanyakan secara serius.

Di tengah masyarakat yang harus mengantre berjam-jam untuk mendapatkan BBM subsidi, publik membutuhkan kepastian bahwa setiap liter memiliki jejak yang jelas: berapa yang dimuat, berapa yang tercatat, berapa yang dibawa mobil tangki, berapa yang tiba di SPBU, dan berapa yang akhirnya disalurkan kepada masyarakat.

Jika dugaan permainan volume dan transaksi dalam rantai pengawasan itu benar, maka bongkar berdasarkan bukti. Jika tidak benar, bantah dengan data dan hasil pemeriksaan yang dapat diuji.

Pertanyaan masyarakat kini bukan hanya mengapa BBM subsidi langka. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apakah setiap liter BBM subsidi yang keluar dari depot benar-benar sampai ke SPBU sesuai volume yang seharusnya?

Hingga berita ini ditayangkan, Redaksi Mataxpost masih berupaya menghubungi pihak terkait, termasuk pihak Depot Pemasaran Sei Duku dan Depot Pemasaran Kota Dumai, untuk memperoleh penjelasan mengenai proses tera, pengisian, pencatatan volume, pengamanan mobil tangki, serta mekanisme pengawasan kendaraan sebelum meninggalkan depot. Klarifikasi dan data dari pihak terkait akan menjadi bagian penting dalam pemberitaan lanjutan Redaksi Mataxpost.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    x