PEKANBARU,- Sebuah keanehan yang patut dipertanyakan ketika Riau dikenal sebagai daerah penghasil minyak mentah, tetapi masyarakat justru menghadapi kelangkaan BBM dan antrean panjang di sejumlah SPBU. Pertanyaannya kini bukan hanya berapa banyak BBM tersedia, tetapi ke mana BBM yang seharusnya memenuhi kebutuhan masyarakat Riau mengalir? (16/09)
Kelangkaan Bio Solar di sejumlah wilayah Riau tidak hanya perlu dilihat dari persoalan kuota dan tingginya kebutuhan masyarakat.
Dugaan penyelewengan distribusi ke sektor perkebunan dan pabrik kelapa sawit juga perlu dibongkar, terutama terkait kendaraan yang diduga menggunakan BBM subsidi untuk kegiatan angkutan TBS.
Dalam penelusuran di lapangan, terdapat dugaan sejumlah kendaraan pembawa tandan buah segar (TBS) sawit turut mengisi Bio Solar subsidi di SPBU.
Truk-truk besar yang digunakan untuk melangsir TBS dari kebun menuju pabrik membutuhkan Solar dalam jumlah besar sehingga perlu dipastikan apakah kendaraan tersebut memang berhak menggunakan BBM subsidi.
Modus yang diduga terjadi tidak hanya melalui truk pengangkut TBS. Ada pula kendaraan pribadi yang tangkinya diduga telah dimodifikasi untuk menampung BBM lebih banyak dan digunakan mengambil Bio Solar secara berulang di sejumlah SPBU.
Pantauan di sejumlah SPBU juga menemukan adanya truk angkutan TBS yang tetap mendapatkan pengisian Bio Solar. Dalam pola yang perlu diperiksa tersebut, operator SPBU diduga memperoleh uang tambahan dari setiap liter yang diberikan kepada kendaraan tertentu.
Jika praktik itu benar terjadi, persoalannya bukan lagi sekadar pelangsiran oleh kendaraan. Ada dugaan kebocoran di titik penyaluran karena BBM subsidi dapat diberikan kepada kendaraan yang peruntukannya perlu dipastikan sesuai ketentuan.
Pola tersebut perlu ditelusuri melalui transaksi SPBU, CCTV, nomor polisi kendaraan, volume pengisian dan frekuensi kendaraan melakukan pengisian. Termasuk perlu diperiksa apakah kendaraan yang sama berulang kali mengisi dalam jumlah besar di SPBU berbeda.
Dugaan penggunaan kendaraan dengan tangki modifikasi juga perlu diperiksa. Aparat dapat menelusuri siapa pemilik kendaraan, berapa kapasitas tangki sebenarnya, berapa kali melakukan pengisian dan ke mana BBM yang dikumpulkan kemudian dibawa.
Begitu pula dengan truk pengangkut TBS. Jika kendaraan tersebut berulang kali mendapatkan Bio Solar dalam jumlah besar, perlu ditelusuri hubungan antara pemilik kendaraan, pihak perkebunan, pabrik kelapa sawit dan SPBU tempat pengisian.
Sebab, jika kebutuhan Solar operasional angkutan sawit dipenuhi melalui BBM subsidi yang tidak semestinya, volume yang seharusnya tersedia bagi masyarakat berpotensi terserap untuk kegiatan tersebut.
Di tengah masyarakat yang harus mengantre berjam-jam, kondisi ini menjadi pertanyaan serius. Bagaimana kendaraan pengangkut TBS dapat memperoleh Bio Solar subsidi ketika masyarakat justru kesulitan mendapatkannya?





































































































.


Tidak ada komentar