𝔱𝔞𝔧𝔞𝔪 𝔪𝔢𝔩𝔦𝔥𝔞𝔱 𝔣𝔞𝔨𝔱𝔞
𝐌 𝐀 𝐓 𝐀 𝐗 𝐏 𝐎 𝐒 𝐓
Tiada Kebenaran Yang Mendua
Bola dunia MataXPOST
MENU Selasa, 01 Sep 2026
x
.

Rasia Besar Kampung Narkoba Pekanbaru, Pengguna Diciduk, Bandar Masih Jadi Teka Teki

waktu baca 3 menit
Selasa, 1 Sep 2026 08:18

PEKANBARU,-  Operasi gabungan Polda Riau, BNNP Riau, Polresta Pekanbaru, Satpol PP, serta Bea dan Cukai Kanwil Riau pada Senin (31/8/2026) mendapat apresiasi, tetapi juga memunculkan kritik dari masyarakat. (01/09)

Sebanyak 280 personel dikerahkan menyisir tiga kawasan, yakni Panger, Kampung Terendam, dan Kampung Dalam. Dalam operasi tersebut, petugas mengamankan 10 orang yang diduga sebagai pengguna narkoba serta menyita paket yang diduga sabu dan sejumlah bong.

Dirnarkoba Polda Riau Kombes Putu Yudha Prawira. (Foto: dok. Polda Riau)

Sedikitnya 10 komentar masyarakat yang dirangkum MataXPOST menilai operasi tersebut perlu dievaluasi. Mereka mengapresiasi keberanian aparat masuk ke kawasan rawan narkoba, tetapi mempertanyakan mengapa hasil yang diumumkan justru lebih banyak menyasar pengguna.

“Kalau pengguna ditangkap, bandar dan pengedarnya bagaimana?” menjadi salah satu pertanyaan yang paling banyak disampaikan warga.

Sebagian warga juga mempertanyakan informasi yang disebut-sebut telah beredar sejak 29 Agustus 2026, dua hari sebelum razia berlangsung.

Jika informasi tersebut lebih dulu bocor , masyarakat meminta aparat menyelidiki dari mana kebocoran itu terjadi karena dapat memberikan kesempatan kepada pihak yang menjadi target utama untuk menghilangkan barang bukti atau meninggalkan lokasi.

Meski demikian, dugaan kebocoran informasi tersebut belum dapat dipastikan dan perlu diklarifikasi secara resmi oleh pihak berwenang.

Warga menilai pemberantasan narkoba tidak cukup hanya dengan menangkap pengguna. Jika pemasok dan pengedar tidak tersentuh, peredaran narkoba dinilai akan terus berulang karena pengguna baru akan selalu muncul selama barang masih tersedia.

“Jangan hanya menangkap orang yang memakai. Telusuri siapa yang menjual dan dari mana barang itu datang,” ujar salah seorang warga yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan.

Kritik lainnya berkaitan dengan skala operasi. Dengan melibatkan 280 personel gabungan, masyarakat berharap hasilnya tidak berhenti pada penangkapan pengguna, tetapi dilanjutkan dengan pengembangan perkara hingga mengungkap pengedar, pemasok, jaringan, dan pihak yang diduga menjadi bandar.

Publik juga mempertanyakan tindak lanjut terhadap 10 orang yang diamankan. Apakah pemeriksaan mereka akan dikembangkan untuk mengungkap jaringan di atasnya atau perkara hanya berhenti pada pengguna?

Apresiasi terhadap aparat tetap penting, tetapi kritik publik juga harus menjadi bahan evaluasi. Keberhasilan operasi narkoba semestinya tidak hanya diukur dari jumlah orang yang diamankan, melainkan dari kemampuan aparat memutus mata rantai peredaran narkoba dari tingkat pengguna hingga pemasok dan bandar.

Sebab, menangkap pengguna tanpa membongkar pemasok hanya menyelesaikan sebagian kecil persoalan.

Masyarakat Pekanbaru membutuhkan operasi yang bukan sekadar ramai dalam jumlah personel, tetapi tepat sasaran, memiliki tindak lanjut yang jelas, dan mampu membongkar jaringan hingga ke akar.

Jangan berhenti di pengguna. Jangan berhenti di bong. Masyarakat menunggu: siapa pemasoknya, siapa pengedarnya, dan sejauh mana jaringan di baliknya akan dibongkar?

MataXPOST — Berani Mengungkap Fakta.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    x