тαʝαм мєℓιнαт ƒαктα
𝐌 𝐀 𝐓 𝐀 - 𝐗 𝐏 𝐎 𝐒 𝐓
Tiada Kebenaran Yang Mendua
Bola dunia MataXPOST
MENU Kamis, 17 Sep 2026
x
.

Arogansi Disertai Dugaan Perbuatan Tak Menyenangkan, Oknum Sopir Pejabat Agrinas Disorot Publik

waktu baca 4 menit
Kamis, 17 Sep 2026 12:45

PEKANBARU, – Persoalan bermula dari hal sederhana. Pemilik usaha laundry, Lina dan suaminya, Kemal, disebut hanya bermaksud meminta secara baik-baik agar sebuah mobil Toyota Fortuner yang berada di area persil usaha mereka dipindahkan karena menghalangi akses usaha. (17/09)

Namun, permintaan tersebut menurut keterangan Kemal justru berujung pada cekcok dan dugaan tindakan anarkis yang melibatkan sejumlah orang yang disebut sebagai rombongan atau sopir pejabat Agrinas.

Informasi yang diterima menyebutkan, sebelum persoalan terjadi, sejumlah orang tersebut awalnya duduk di sebuah warung yang berada di sebelah usaha laundry milik Lina dan Kemal. Mereka disebut sedang bermain gaplek.

Sementara itu, satu unit Toyota Fortuner terlihat berada di area yang menurut pemilik merupakan persil usaha laundry, bukan tempat parkir kendaraan tersebut.

Kemal mengatakan, dirinya tidak bermaksud mencari persoalan. Ia hanya ingin kendaraan tersebut dipindahkan karena mengganggu aktivitas usaha.

“Kami hanya meminta baik-baik supaya mobil itu dipindahkan karena menghalangi usaha laundry. Tidak ada maksud mencari ribut,” ujar Kemal.

Permintaan tersebut kemudian disebut ditindaklanjuti dengan memindahkan kendaraan ke pinggir jalan. Namun, persoalan justru berkembang ketika Kemal berada tidak jauh dari lokasi.

Menurut Kemal, salah seorang yang disebut berada dalam rombongan tersebut kemudian menunjukkan sikap yang dinilainya arogan dengan menunjuk-nunjuk dadanya sendiri sembari mengatakan, “BUMN ini, lihat ini, mau ngapa?”

Kemal mengaku tidak memahami mengapa permintaan sederhana mengenai posisi kendaraan justru berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.

“Awalnya kan cuma mobil yang menghalangi tempat usaha. Kami minta pindahkan secara baik-baik. Kenapa malah menjadi seperti ini?” kata Kemal.

Situasi kemudian berkembang menjadi cekcok. Menurut keterangan Kemal, sejumlah orang yang sebelumnya berada di warung kemudian ikut mendatangi tempat usaha laundry. Ia mengaku salah seorang dari mereka masuk ke dalam kios dan diduga berusaha melakukan pemukulan terhadap dirinya.

Tidak hanya itu, Kemal menyebut terdapat tindakan menendang kursi-kursi yang berada di dalam tempat usaha laundry. Situasi tersebut membuat suasana semakin tegang.

“Mereka masuk ke tempat usaha saya. Ada yang berusaha memukul dan kursi-kursi juga ditendang. Saya merasa usaha saya didatangi ramai-ramai,” ungkapnya.

Kemal mengaku istrinya, Lina, kemudian berusaha menarik dirinya agar tidak melawan. Menurut dia, jumlah orang yang datang cukup banyak sehingga dirinya khawatir persoalan tersebut berkembang menjadi bentrokan.

“Istri saya menarik saya supaya jangan melawan, karena mereka ramai. Kami takut kalau keadaan semakin tidak terkendali,” ujar Kemal.

Dalam situasi tersebut, Kemal juga mengaku mendengar sejumlah orang menyebut nama Agrinas. Salah satu pernyataan yang disebut terdengar adalah, “Agrinas ini, jangan macam-macam.”

Pernyataan tersebut menurut Kemal membuat dirinya semakin mempertanyakan sikap orang-orang yang berada di lokasi.

“Kalau memang mereka orang Agrinas atau membawa nama Agrinas, kami juga bingung. Kami masyarakat biasa, hanya menjalankan usaha. Kami tidak mencari masalah dengan siapa pun,” kata Kemal.

Kemal mengaku tidak mengetahui seluruh nama orang yang terlibat. Namun, menurut keterangannya, orang-orang tersebut menyebut atau menunjukkan keterkaitan dengan Agrinas. Karena itu, status dan kapasitas mereka perlu dipastikan agar tidak muncul kesimpulan bahwa tindakan personal sejumlah orang otomatis merupakan tindakan resmi institusi.

Begitu pula dengan dugaan keterlibatan sopir atau orang yang bekerja untuk pejabat tertentu, perlu dikonfirmasi secara jelas hubungan mereka dengan pihak yang disebut.

Bagi Kemal, persoalan tersebut bukan lagi semata-mata mengenai sebuah kendaraan yang parkir di lokasi usaha. Ia menilai yang menjadi persoalan adalah bagaimana dirinya sebagai pemilik usaha diperlakukan ketika menyampaikan permintaan secara baik-baik.

“Saya tidak melarang orang berteman, duduk atau bermain di warung sebelah. Tapi jangan sampai usaha kami terganggu. Kalau mobil menghalangi, kami minta pindahkan baik-baik. Jangan karena merasa membawa nama BUMN atau pejabat, masyarakat kecil diperlakukan seperti itu,” tegas Kemal.

Peristiwa tersebut juga menimbulkan pertanyaan mengenai sikap orang-orang yang membawa atau mengatasnamakan nama perusahaan besar ketika berhadapan dengan masyarakat. Persoalan parkir semestinya dapat diselesaikan melalui komunikasi sederhana tanpa harus berkembang menjadi keributan di tempat usaha warga.

Redaksi Mataxpost masih berupaya memperoleh konfirmasi dari pihak Agrinas maupun pihak lain yang disebut berada di lokasi kejadian. Konfirmasi tersebut diperlukan untuk mengetahui versi mereka mengenai kronologi peristiwa, identitas orang-orang yang terlibat, serta apakah benar mereka merupakan sopir atau bagian dari rombongan pejabat Agrinas.

Mataxpost membuka ruang hak jawab bagi pihak Agrinas dan pihak-pihak yang disebut dalam pemberitaan ini untuk memberikan penjelasan secara utuh dan berimbang.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    x