[gnpub_google_news_follow]
x

Heboh, Dugaan Modus Penipuan Arisan Bodong Kembali Gegerkan Warga Perawang, Puluhan Peserta Menjerit

waktu baca 3 menit
Jumat, 24 Jul 2026 19:15

PERAWANG — Dugaan kasus arisan bermasalah kembali menghebohkan masyarakat Perawang. Puluhan warga dikabarkan mengalami keresahan setelah uang arisan yang mereka ikuti diduga tidak kunjung diterima sesuai jadwal pencairan. (24/07)

Kasus ini mencuat setelah sejumlah peserta mengaku mengalami kendala saat hendak mengambil hak mereka dalam arisan yang menggunakan sistem bertingkat.

Para peserta menyebut, arisan tersebut menawarkan berbagai paket dengan nilai setoran yang berbeda-beda, mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah setiap minggunya.

Informasi yang diperoleh dari sejumlah warga menyebutkan, arisan tersebut diduga dikelola oleh seorang perempuan berinisial Sinta Nova alias Meme dengan suaminya Zuli Hardianto alias Don, warga Sukaramai, Perawang, kecamatan Tualang, Siak.

Dalam pelaksanaannya, peserta tergabung dalam beberapa kelompok melalui aplikasi pesan WhatsApp untuk mengatur jadwal pembayaran dan pencairan.

Salah satu peserta berinisial AC mengaku menjadi salah satu korban yang merasa dirugikan. Ia menyebut, dirinya seharusnya mendapatkan giliran pencairan pada 22 Juli 2026. Namun, sehari setelah jadwal tersebut, tepatnya pada 23 Juli 2026, dirinya justru mengalami hal yang tidak terduga.

AC mengaku tiba-tiba dikeluarkan dari grup WhatsApp arisan yang berisi puluhan anggota tanpa mendapatkan penjelasan yang jelas terkait uang yang telah disetorkannya.

“Saya seharusnya menerima arisan tanggal 22 Juli. Tetapi tanggal 23 Juli saya tiba-tiba sudah tidak ada lagi di dalam grup,” ungkap AC.

Selain AC, sejumlah peserta lainnya juga mengaku mengalami hal serupa. Mereka mengaku sudah berulang kali berusaha menghubungi pihak pengelola untuk meminta kejelasan terkait pembayaran arisan yang sebelumnya telah dijanjikan.

Dalam sejumlah percakapan WhatsApp yang diperoleh, terlihat peserta mencoba meminta kepastian pembayaran. Salah satu peserta bahkan mempertanyakan keberadaan dana yang sudah lama ditunggu dan meminta agar pengelola segera memberikan penyelesaian.

Para peserta menyebut, nominal arisan yang dijalankan cukup beragam. Ada paket dengan nilai sekitar Rp300 ribu per minggu, sementara beberapa paket lainnya disebut mencapai Rp1 juta hingga Rp10 juta per minggu.

Dengan jumlah peserta yang mencapai puluhan orang serta nilai setoran yang bervariasi, muncul dugaan bahwa jumlah dana yang telah terkumpul mencapai angka yang cukup besar.

Perkiraan sementara menyebut nilai dana yang beredar dalam arisan tersebut bisa mencapai ratusan juta rupiah hingga berpotensi menembus angka miliaran rupiah.

Namun, jumlah pasti kerugian hingga saat ini belum dapat dipastikan karena para peserta masih melakukan pendataan terhadap seluruh anggota yang mengikuti arisan tersebut, termasuk jumlah setoran masing-masing dan jadwal pencairan yang belum terealisasi.

Sejumlah warga berharap persoalan ini dapat segera mendapatkan titik terang. Mereka meminta pihak pengelola memberikan penjelasan terbuka mengenai kondisi arisan, termasuk kejelasan dana peserta yang belum dikembalikan.

Apabila tidak ada penyelesaian, para peserta menyatakan akan mempertimbangkan untuk membawa persoalan tersebut ke jalur hukum agar mendapatkan kepastian dan perlindungan atas dana yang telah mereka setorkan.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak yang disebut sebagai pengelola arisan belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan tersebut. Redaksi tetap membuka ruang bagi pihak terkait untuk memberikan klarifikasi maupun hak jawab sesuai prinsip keberimbangan pemberitaan.

Catatan: Kasus ini masih berupa dugaan. Penentuan ada atau tidaknya tindak pidana tetap menjadi kewenangan aparat penegak hukum berdasarkan hasil penyelidikan dan proses hukum yang berlaku.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    x