Riau – Modus dugaan pemerasan yang dilakukan oleh Haryanto, oknum Ketua LSM Mampir, akhirnya terbongkar. Ia diduga memanfaatkan posisinya sebagai “alat kontrol sosial masyarakat” untuk menekan kontraktor proyek pemerintahan demi mendapatkan sejumlah uang.(27/1/2025)
Kasus Terungkap di Konferensi Pers :
Kasus ini terungkap dalam konferensi pers yang digelar senin – 20 januari 2025 disalah satu caffe dikota Pekanbaru, oleh seorang kontraktor berinisial D. Dalam kesempatan tersebut, D membeberkan bahwa dirinya menjadi korban modus Haryanto, yang sebelumnya sempat ramai diberitakan di berbagai media online.
D menegaskan bahwa Haryanto bersama sejumlah oknum lainnya dari LSM Mampir diduga kuat terlibat pemerasan dan pencemaran nama baik terhadap dirinya.
D mengisahkan bahwa Haryanto awalnya menghubunginya dengan pendekatan sok akrab, mengaku ingin membantu mengawasi proyek yang sedang dikerjakan D di wilayah Kampar.
Haryanto bahkan mengklaim memiliki pemahaman mendalam terkait konstruksi, sehingga D menganggap hubungan itu hanya sekadar diskusi santai tanpa kesepakatan resmi.
Namun, seiring berjalannya waktu, Haryanto kerap mengunjungi lokasi proyek tanpa ijin dan mengambil foto di area pekerjaan, dan mengirimkannya kepada D melalui WhatsApp.
Pesan-pesan yang dikirimkan selalu menyiratkan pengawasan ketat, diikuti dengan permintaan uang, baik untuk “uang bensin” maupun “sekadar ngopi.”
“Dia sering mengirimkan foto dari lokasi proyek, lalu meminta uang. Sebagai teman, saya bantu beberapa kali, tetapi ternyata itu dimanfaatkan,” ungkap D.
Selain itu, terungkapkan bahwa Haryanto pernah meminjam uang sebesar Rp10 juta dengan alasan mendesak. Namun, D hanya memberikan Rp2 juta tanpa meminta pengembalian. Tak lama setelahnya, Heryanto kembali menghubungi D dengan klaim bahwa temannya seorang wartawan yang sering bersama ke lokasi proyek menemukan kesalahan di proyek tersebut. Untuk menyelesaikan masalah itu, Haryanto kembali meminta uang dengan dalih membantu “temannya”.
Berikut beberapa potongan chat antara Haryanto dengan pengusaha inisial D;
“Kakak ku, ada satu teman wartawan yang sering sama saya ke proyek kakak, dia tanya kenapa mini pile kak pecah,” ujar Haryanto dalam sebuah pesan WhatsApp yang ditunjukkan D.
“Umur yg gak cukup blm banyak pukul aja pasti.rontok” Balas D
“Betul sdh sy jelasin lah. Betul tu yg kk bilang” balas haryanto
“Dan kalo pun dah siap pancang tetap kami hancurkan kepalanya utk ambil stek pembesian” ujar D seraya menjelaskan
“Klu kk ku tdk keberatan, bantu uang belanjo kawan ko yo kak. Hanya kk yg bisa membantu kami nyo. Yg lain tu pahit duit bagi kami, imbuh Haryanto
“Nantilah diatur.. jangan jadikan sesuatu buat modus ya, “Berteman boleh saja, tp harus fair”, kata D
“Oke kk ku. Sy tidak akan pernah minta uang kak lg. Saya lurus2 aja orang. Aku tak pernah pakai modus sama kk.” tutup haryanto seraya akhiri percakapan dan memblokir nomor pengusaha D
Terkait proyek semuanya dikerjakan sesuai RAB, dan saya bertanggung jawab atas pekerjaan saya, imbuh D saat konfrensi pers.



Tidak ada komentar