
.

Pekanbaru, – Dugaan penganiayaan terhadap sejumlah anggota Pemuda Pancasila di Ten Cafe, Jalan Ronggowarsito, Pekanbaru, menyisakan sejumlah pertanyaan. Terlebih, persoalan antara pihak-pihak yang disebut terlibat sebelumnya dikabarkan telah diselesaikan melalui perdamaian. (28/08)
Berdasarkan penelusuran Mata X Post dan keterangan sejumlah pedagang, persoalan bermula ketika sejumlah pedagang meminta bantuan Pemuda Pancasila agar tetap dapat berjualan di sekitar Masjid Agung An-Nur untuk menghidupi keluarga mereka.

Menurut narasumber di lapangan yang meminta identitasnya dirahasiakan, anggota Pemuda Pancasila kemudian berupaya membangun komunikasi dengan Satpol PP Kota Pekanbaru serta melakukan pendataan lapak. Dalam proses tersebut terjadi selisih paham antara Dina dan beberapa anggota Pemuda Pancasila.
Persoalan kemudian memanas setelah Dina disebut menyampaikan pengaduan kepada bapak angkatnya, Kolonel Jefridin, yang disebut memiliki hubungan dekat dengannya.
Namun, menurut keterangan sejumlah pedagang kepada Mata X Post, persoalan tersebut kemudian diselesaikan melalui pertemuan di depan Masjid Agung An-Nur sekitar pukul 17.15 WIB pada 8 Agustus 2026, sebelum kejadian di Ten Cafe.

Dalam pertemuan tersebut, Dina dan beberapa anggota Pemuda Pancasila yang sebelumnya terlibat selisih paham disebut telah berdamai dan saling bersalaman. Perdamaian itu disebut disaksikan langsung oleh sejumlah pedagang.
Informasi lain yang dihimpun Mata X Post menyebut adanya oknum aparat yang diduga ikut mengawal pertemuan perdamaian tersebut. Namun, siapa yang meminta atau memerintahkan pengawalan masih memerlukan konfirmasi dan pembuktian lebih lanjut.
Setelah perdamaian tersebut, menurut sejumlah pedagang, tidak ada lagi persoalan antara pihak-pihak yang sebelumnya berselisih selama lebih dari dua minggu.
Kemudian pada 26 Agustus 2026 sekitar pukul 16.30 WIB, terjadi dugaan penganiayaan terhadap tamu di Ten Cafe sebagaimana telah diberitakan Mata X Post sebelumnya.
Di sisi lain, Kolonel Jefridin telah memberikan klarifikasi melalui sejumlah media lokal, termasuk WartaPembaruan. Dalam pemberitaan tersebut, Jefridin membantah melakukan pemukulan, penganiayaan maupun ancaman dan menyatakan dirinya hanya membela keponakannya, Dina.
Redaksi Mata X Post menghargai keterangan tersebut sebagai bentuk pembelaan diri dan hak setiap orang untuk menyampaikan versinya. Mata X Post tidak menyebut bantahan tersebut sebagai kebohongan.
Namun, berdasarkan keterangan sejumlah pedagang dan pihak yang mengaku mengetahui rangkaian kejadian di lapangan, terdapat bagian kronologi yang dinilai perlu diklarifikasi lebih lanjut, khususnya mengenai perdamaian antara Dina dan beberapa anggota Pemuda Pancasila sebelum kejadian di Ten Cafe.
Dalam klarifikasinya di sejumlah media lokal, Kolonel Jefridin juga menyampaikan adanya dugaan pengkondisian terhadap sejumlah instansi pemerintah, termasuk Satpol PP, Dinas Perhubungan hingga Kodam XIX/Tuanku Tambusai.
Pernyataan mengenai dugaan pengkondisian tersebut juga perlu diuji berdasarkan bukti dan klarifikasi dari pihak-pihak yang disebut.
Terlebih, tudingan yang mengaitkan Kodam XIX/Tuanku Tambusai dengan dugaan pengkondisian tersebut telah dibantah pihak Kodam XIX/Tuanku Tambusai. Karena itu, tudingan tersebut belum dapat ditempatkan sebagai fakta dan masih memerlukan pembuktian secara objektif.
Setelah lebih dari dua minggu disebut tidak ada persoalan, sejumlah anggota Pemuda Pancasila kemudian kembali diundang menghadiri pertemuan di Ten Cafe pada Rabu sore, 26 Agustus 2026.
Salah seorang anggota Pemuda Pancasila mengatakan kepada Mata X Post bahwa mereka datang setelah mendapat telepon dari Komandan Komando Inti (KoTI). Menurut sumber, pertemuan tersebut bertujuan memastikan persoalan sebelumnya tidak kembali terjadi.
Anggota yang disebut berinisial RN, RM dan BC kemudian datang ke Ten Cafe. Menurut sumber, pertemuan awalnya berlangsung baik.
Di lokasi juga disebut terdapat dua orang yang diduga aparat kepolisian, salah satunya disebut memiliki hubungan keluarga dengan Kolonel Jefridin.
Situasi kemudian disebut berubah ketika Komandan KoTI keluar sebentar untuk mengambil kendaraan.
Menurut keterangan korban, tak lama kemudian Kolonel Jefridin datang ke dalam kafe dan menanyakan keberadaan seseorang bernama Romi.
Sumber kemudian mengungkapkan bahwa diduga terjadi pemukulan terhadap dua orang. Dugaan tindakan tersebut disebut disaksikan sejumlah pengunjung dan karyawan kafe.
Di titik inilah pertanyaan utama muncul: Jika persoalan sebelumnya telah diselesaikan melalui perdamaian, untuk apa pihak-pihak tersebut kembali dipertemukan?
Jika selama lebih dari dua minggu tidak ada lagi persoalan, mengapa pertemuan berikutnya justru disebut berujung dugaan pemukulan?
Sejumlah warga menilai peristiwa tersebut perlu diusut secara terang dan objektif agar seluruh rangkaian kejadian tidak hanya diketahui berdasarkan satu versi.
Mata X Post menegaskan bahwa informasi yang belum terverifikasi secara independen tetap ditempatkan sebagai dugaan atau keterangan narasumber. CCTV, saksi, laporan, rekaman yang relevan dan pemeriksaan resmi menjadi penting untuk memastikan fakta kejadian.
Redaksi Mata X Post telah berupaya meminta klarifikasi kepada Kolonel Jefridin mengenai alasan kedatangannya ke Ten Cafe, tujuan pertemuan, pihak yang mengundang anggota Pemuda Pancasila, serta apa yang terjadi setelah dirinya tiba di lokasi.
Namun hingga berita ini ditayangkan, upaya konfirmasi awak media belum memperoleh jawaban dari Kolonel Jefridin.
Mata X Post tetap membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi Kolonel Jefridin maupun seluruh pihak yang disebut dalam pemberitaan ini.
Pemberitaan ini tidak dibuat untuk memfitnah, menyebarkan kebohongan, ataupun menyimpulkan siapa yang benar dan siapa yang salah.
Mata X Post menyajikan hasil penelusuran dan keterangan yang diperoleh, sedangkan informasi yang belum terverifikasi tetap disampaikan sebagai dugaan.
Redaksi menghargai hak setiap pihak untuk membela diri dan menyampaikan versinya. Pada saat yang sama, media berkewajiban menguji setiap informasi agar publik memperoleh gambaran peristiwa secara utuh.
Inti persoalannya kini bukan sekadar dugaan penganiayaan, tetapi juga rangkaian peristiwa yang mendahuluinya.
Jika benar sudah ada perdamaian, mengapa pihak-pihak tersebut kembali dipertemukan? Siapa yang mengundang mereka dan apa tujuan pertemuan tersebut?
Jika benar terjadi dugaan pemukulan, apa yang sebenarnya terjadi di dalam Ten Cafe?
Begitu pula dengan dugaan pengkondisian sejumlah instansi yang disampaikan dalam klarifikasi Kolonel Jefridin. Apakah terdapat bukti yang dapat mendukung pernyataan tersebut dan bagaimana klarifikasi resmi dari pihak-pihak yang disebut?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu dijawab berdasarkan fakta, bukti, saksi dan proses hukum, bukan semata berdasarkan klaim satu pihak.
Mata X Post akan terus menelusuri persoalan ini dan memberikan ruang yang sama kepada seluruh pihak untuk menyampaikan keterangan maupun hak jawab.
Bunga Cantika
















.
.
.


Tidak ada komentar