Lebih jauh, pola perjalanan mobil tangki setelah meninggalkan depot juga patut menjadi perhatian. Informasi yang beredar menyebut adanya kendaraan tertentu yang diduga tidak langsung menuju SPBU, melainkan sempat berhenti di lokasi pinggir jalan yang dari luar tampak seperti rumah makan.
Titik singgah semacam itu tentu tidak otomatis menunjukkan adanya penyimpangan. Namun, apabila terdapat pola pemberhentian berulang pada kendaraan tertentu, terutama apabila waktu berhenti tidak wajar dan kemudian terdapat selisih volume ketika tiba di SPBU, maka lokasi tersebut layak diperiksa.
Dengan demikian, dugaan permainan tidak boleh dilihat sebagai satu kejadian yang berdiri sendiri. Rantainya harus ditelusuri dari volume di dalam tangki, proses tera, pengawasan kendaraan, dokumen pengiriman, segel, pintu keluar depot, perjalanan sopir, titik singgah, hingga volume yang benar-benar diterima SPBU.
Pertamina perlu membuka audit berbasis data terhadap perjalanan mobil tangki secara menyeluruh. Bukan sekadar memeriksa dokumen, tetapi mencocokkan dokumen dengan rekaman CCTV, data GPS, waktu tempuh, titik pemberhentian, hasil tera, segel kendaraan dan volume penerimaan di SPBU.
Armada yang berulang kali menunjukkan pola tidak biasa juga perlu menjadi perhatian. Apakah kendaraan tertentu memiliki catatan selisih volume? Apakah kendaraan tertentu berulang kali berhenti di lokasi yang sama? Apakah waktu tempuhnya sesuai dengan rute? Apakah volume yang diterima SPBU sesuai dengan surat jalan? Dan apakah terdapat pola yang berulang?
Informasi mengenai dugaan pola serupa juga disebut tidak hanya berkaitan dengan Depot Pemasaran Sei Duku, tetapi turut mengarah ke Depot Pemasaran Kota Dumai. Jika ditemukan indikasi yang sama, pemeriksaan perlu diperluas untuk memastikan apakah persoalan hanya terjadi pada kasus tertentu atau terdapat pola yang lebih luas dalam rantai distribusi.
Yang perlu dibongkar bukan asumsi bahwa seluruh petugas terlibat. Yang harus ditemukan adalah siapa melakukan apa, pada tahapan mana penyimpangan terjadi, bagaimana volume bisa berbeda, siapa yang memiliki kewenangan pada titik tersebut, dan ke mana BBM yang diduga berlebih kemudian mengalir.
Sebab jika benar sejak depot telah terjadi penyimpangan volume dan kemudian berlanjut dalam perjalanan mobil tangki hingga titik penerimaan SPBU, maka rantai distribusi BBM subsidi patut dipertanyakan secara serius.
Di tengah masyarakat yang harus mengantre berjam-jam untuk mendapatkan BBM subsidi, publik membutuhkan kepastian bahwa setiap liter memiliki jejak yang jelas: berapa yang dimuat, berapa yang tercatat, berapa yang dibawa mobil tangki, berapa yang tiba di SPBU, dan berapa yang akhirnya disalurkan kepada masyarakat.
Jika dugaan permainan volume dan transaksi dalam rantai pengawasan itu benar, maka bongkar berdasarkan bukti. Jika tidak benar, bantah dengan data dan hasil pemeriksaan yang dapat diuji.
Pertanyaan masyarakat kini bukan hanya mengapa BBM subsidi langka. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apakah setiap liter BBM subsidi yang keluar dari depot benar-benar sampai ke SPBU sesuai volume yang seharusnya?
Hingga berita ini ditayangkan, Redaksi Mataxpost masih berupaya menghubungi pihak terkait, termasuk pihak Depot Pemasaran Sei Duku dan Depot Pemasaran Kota Dumai, untuk memperoleh penjelasan mengenai proses tera, pengisian, pencatatan volume, pengamanan mobil tangki, serta mekanisme pengawasan kendaraan sebelum meninggalkan depot. Klarifikasi dan data dari pihak terkait akan menjadi bagian penting dalam pemberitaan lanjutan Redaksi Mataxpost.



































































































.


Tidak ada komentar